HomePersonalMembaca dan Menulis – Optimis Gara-gara Warungblogger #1

Membaca dan Menulis – Optimis Gara-gara Warungblogger #1

Membaca dan menulis, momen untuk menyalurkan kegelisahan jiwa

Membaca dan Menulis adalah suatu hal yang tak terfikirkan sebelumnya. Jika suatu ketika akhirnya menang di beragam event kompetisi menulis, itu semata anugerah dari YMK bagi saya yang dikabulkan.

Jauh hari di masa belum mengenal menulis di media kontemporer Blogger, saya yang terbilang fakir ilmu ini, masih amatir bikin tulisan, apalagi tutorial basic.
Jangankan kalimat pendek, merangkai narasi menjadi paragraf utuh saja, saya masih keteteran memadukan kalimatnya.”

Baca juga : › Dibalik keterbukaan, menjadi Blogger adalah teguran

6 tahun duduk di bangku sekolah dasar dan menengah, dengan naluri aneh mencoret-coret sampul belakang buku, menjadi kebutuhan mutlak bagi saya.

Sampul belakang buku sekolah selalu siap menjadi saksi bisu, mengawaliawal perjalanan karir menjadi penulis suka-suka, untuk kemudian mengkombinasikannya dengan pola coretan tak beraturan, kartun, maupun kurva garis yang tidak jelas.
Rentetan peristiwa tak lazim yang dimulai melalui aktivitas tak jelas tersebut, malah menggiring saya untuk makin terpacu membaca-menggambar, hingga kini.

Mungkin saja istilah kekinian yang dikenal di dekade ini, metode coret-coret yang dikenal sebagai doodle, merupakan pengembangan seni yang telah di kolaborasi penulis suka-suka di era milenial. Baik secara kasat mata terlihat, maupun beberapa hasil pemikiran sendiri yang menjadi simbol ketersesakan jiwa. Bangkit dari titik 0 kemanusiaan.

DARI DOODLE, AKHIRNYA AKU MAU TERPANGGIL UNTUK MEMBACA DAN MENULIS

Hampir kebanyakan kesempatan yang ada menjelang mata pelajaran usai, lebih sering terluangkan di perpustakaan ketimbang di kantin, hanya untuk membaca buku random dengan kategori tertentu yang saya suka.
Namun kala itu yang paling tak pernah lepas pandangan adalah komik.
Motifnya jelas, selagi terselip gambar yang menarik sebagai narasi cerita, hal yang sangat memungkinkan terjadi adalah semata-mata demi menyadur gambarnya untuk kemudian di salin ulang di buku harian sekolah.

Kalau saya ingat-ingat lagi, betapa lucunya komik Dragon-ball, Digimon, Ensklopedia, Novel Kahlil gibran dan cerpen (waktu itu cerpen Lupus karangan Hilman Hariwijaya adalah cerpen terfavorit saya).

Sementara Novel sastra, hanya saya baca pas lagi suntuk. Atau pas lagi kasmaran akibat terjangkit panyakit baper lantaran terlibat konflik. Menjadi pemuja rahasia cinta dengan teman sebangku sekolah, yang kala itu, pengakuannya tak pernah diterima. 🙁 .

Dari kepribadian saya sendiri yang terkenal lunak hati dan gampang iba sejak lama, sangat klop bila di improvisasi dengan intensitas membaca yang makin tinggi menjelang usia saya menapaki 15 tahun.
Kala itu, saya sudah resmi berstatus pelajar di sebuah SMK swasta. Nah, dari situlah saya mulai belajar dan giat latihan mengenal sastra percintaan. Dalam diam, saya juga menyaring setiap percakapan sahabat menjadi kekuatan, mengenal karakter lawan bicara.

Baca Juga : Diam, Kelemahan sebagai pangkal ilmu yang menguntungkan

Kalau ada sesuatu yang membuat hati saya gaduh tersudutkan, jengkel dan kurang berkenan, tak butuh waktu lama untuk langsung saya tulis. Apalagi dijam mata pelajaran tertentu, jika materi pelajarannya kurang pas didengar, gurunya galak, semuanya juga dapat bagian untuk saya plot kembali menjadi sebuah kisah.

Itulah sebagian besar aspek tegas yang menempel pada diri saya. Selagi sesuatu yang nampak sedap, unik, bahkan intrik, bisa diserap ilmu dan kajiannya, menjadi spontanitas yang wajib saya lampiaskan melalui metode membaca dan menulis.

BANGKU SMK, MEMBACA DAN MENULIS SEBAGAI STUDI PERTIMBANGAN

2001, adalah tahun pencapaian. Membaca dan menulis, membuat saya makin menyukai hal-hal yang berbau intelektual. Karena yang saya perdalam sebagaimana seorang siswa, selain fokus belajar materi referensial menengah kejuruan, saya juga fanatik mengeksplorer tutorial yang sifatnya orisinal, untuk kemudian saya tuang ke dalam sebuah tulisan.

Pemirsa pasti memahami, kalau siswa SMK diidentikkan sebagai siswa pandir yang kerjaannya bikin onar, tawuran, dan malas untuk membawa buku. Toh yang mereka bawa hanyalah 2-3 buah buku saku, tidak lebih, namun di sekolah saya, stigma itu-pun kandas dengan sendirinya. Justru karena kebiasaan saya inilah, yang kemudian ditiru.


Pernah suatu ketika saya ditertawakan oleh rekan sebangku karena terlampau sering membawa buku saku. Tak tanggung-tanggung, di saat pelajaran olahraga, maupun usai materi praktek kejuruan-kelistrikan-pun, saya mengisi jam-jam kosong dengan menulis.

mereka bilang:

Kowe nulis opo her, khan materi Tune Up motor sing penting prakteke, lapo mesti ditulis maneh, Koyok dosen ae”

Saya cuma tersenyum kecut, sambil melambaikan tangan.“Ah sudahlah, justru iku, aku iki wonge lalian, praktek mesin motor, aq tulis lagi”.

Aneh, itulah yang di fikirkan rekan-rekan terhadap saya. Namun tak lantas yang menjadi kekurangan saya tersebut, pantang dihindari. Rekan-rekan semakin segan dan menyadari bahwa ideologi saya sebagai rekan satu usia, ternyata di luar-rata rasio anak SMK. Pola fikir saya akhirnya nyambung bagi mereka untuk memberdaya-gunakan kertas maupun buku sebagai media penyampaian analisa, terutama selama praktikum.

Namun itu tak berlangsung lama. Disaat bertambahnya usia juga berpengaruh terhadap pola pikir seseorang yang kian matang, dan demi merantau mencari mata pencaharian sendiri di luar daerah, saya memutuskan berhenti menulis sejak meninggalkan bangku SMK.

PERPISAHAN YANG TAK LAMA

Sebagai kuli pabrik, saya tidak memiliki daya apa-apa dengan apa yang dilakukan bapak. Bapak menimbun semua berkas-berkas catatan saya dan menjualnya ke tukang rombeng. Karena jujur, tak ada jawaban lain selain inisiatif bapak agar roda perekonomian tetap berjalan.

Kehidupan keluarga saya yang miskin waktu itu, menghapuskan semua memori yang tertuang dalam bentuk kekesalan.
Sebanyak 2 kardus kemasan Indomie yang isinya gambar dan tulisan aneh hasil jerih saya berkarya, terpaksa dijual oleh bapak.
Saya mengaduh, menangis dan tidak sanggup menatap mata ibuk saya dengan harapan mengiba kepadanya. Rasa-rasanya, tak akan ada lagi membaca dan menulis dalam benak saya, Bukan lagi menjadi prioritas sesudahnya.

Bersambung ke halamanhttps://blogermie.com/2013/03/aku-yang-berubah-haluan-gara-gara-webe-2.html

1 komentar untuk “Membaca dan Menulis – Optimis Gara-gara Warungblogger #1”

  1. Ping-kembali: Warung Blogger, Kolaborasi Multietnik dan Multiview » Blogermie™

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!