HomeLifestyleCerpen KoplakSalon Banci, Petaka Dibalik Mahkota Yang Terjamah
salon banci

Salon Banci, Petaka Dibalik Mahkota Yang Terjamah

Banci Salon, Petaka dibalik Mahkota yang terjamah. › Aneh bagi Istri, namun unik bagi Saya. Itulah yang terjadi pada sisi gelap kehidupan Saya kali ini, tepatnya pada tanggal 10 Februari 2013 yang lalu. Penyesalan muncul, semenjak mengunjungi salon banci.

Jika melihat perkembangan fashion di media elektronik era digital, banyak sekali mainstream kehidupan masyarakat urban yang dipenuhi istilah unyu-unyu keren. Ketika untuk pertama kalinya, Saya mengucap lafadz itu.

Baca Juga: Lafadz Allah tertangkap Kamera di Langit Surabaya

Hidup di bantaran kali desa Sidodadi (lebih tepatnya kelurahan kemendung), benar-benar membuat Saya buta informasi.

Beruntung, kemampuan pas-pasan dengan upaya menabung sendiri, akhirnya dalam waktu 2 tahun setelah lulus sekolah, Saya bisa beli laptop loak.

Keingin tahuan tinggi akan trend potong rambut, menyisir naluri Saya sebagai pria fungky untuk menjajal gaya rambut belah tengah.

Entah seperti menjadi tuntunan, sebagaimana pengikut akan ketergantungan idola. Kala itu, hampir kebanyakan pria-pria cakep bershio buaya darat. Kerap menggunakan gaya rambut Ariel peterpan untuk eksistensi diri melumpuhkan cewek incaran.

Perawatan Rambut Blogermie Menuju Salon Banci / Salon Waria Sidoarjo

Nah. Iseng-iseng bergaya demi mengikuti trend inilah. Dari sekian banyak asumsi yang sifatnya rahasia, ada beberapa organ tubuh yang memang menurut Saya perlu mendapatkan perhatian extra. Karena jika terdapat 1 saja kekurangan pada bagian intim ini, rasa-rasanya krisis kepercayaan diri bisa-bisa datang melanda.

Bagian tubuh yang di gadang-gadang paling kece dan modis menurut Saya pribadi dan handai tolan adalah rambut.

Mulai rambut, bulu sekujur tubuh. Baik rambut pubis, rambut kaki, hingga rambut kepala adalah bagian yang sangat kronis mendapat perawatan extra dari Saya. Untuk itu, setiap harinya, kemolekannya harus senantiasa terjaga.

Setiap hari harus rajin dicuci dan dijemur, di-anginkan biar tidak lepek dan kusam. Dipastikan pula rambut kepala Saya, dalam keadaan TUKIMAN (Teratur, Kemilau, Indah dan Nyaman).

Persoalan rambut yang kerap dialami pria uzur kebanyakan adalah terjadinya masalah uban. Untungnya, untuk masalah uban ini, Saya bersama soulmate. red: ely the gembel, sangat konsisten dalam menghadapi marabahaya uban.

Jangankan uban di kepala, uban yang tumbuh di-kaki pun, bisa segera terlacak dan segera tertutupi oleh semir rambut KIWI.

Salon Banci / Salon Waria Sidoarjo Dapat Dihitung Jari

Di hari setelah acara slametan bayi 7 bulan ini. Normalnya para orang tua, mertua, kelurahan, Pemrov Sidoarjo. Bahkan bapak Walikota terhormat: Syaifullah, sempat bingung dengan maksud acara tersebut.

Hiruk pikuk mereka dalam mempersiapkan penampilan terbaik Saya, seperti menyemarakkan pesta religi saja.

Ada yang sudah berdandan dengan membeli satu set baju koko nan muslim. Meniru gaya berbusana Ustadz Malua’na, Ustadz Yosep Mahsyur, bahkan pula Ustadz Syaipi Ilham, lengkap dengan sorbannya.

Bahkan ada seorang istri yang memaksa suaminya memakai sarung dan kacamata baca berwarna coklat, agar terlihat se-mirip mungkin dengan ust. UJEK. (*yang kini sudah Almarhum)

Tak lupa, untuk segenap tamu wanita. Mereka tengah bersiap melakukan print screen dan Copas gaya berbusana harajuku Saskia meca. Lengkap dengan tudung dan sepatu higwhells 7mm ( Meca beling, meca watu ???). Demikian pula dengan anak-anaknya.

Para ibuk-ibuk sudah membekali mereka dengan konsep busana sedemikian unik, hingga mirip sekali dengan bapak TEBE-Islam Katepe SCTV.

Namun hal tersebut tidak lantas menjadi penghalang bagi saya bersama soulmate. Bagi Saya, rambut adalah pialang untuk menentukan mode.

Sayangnya yang menjadi kendala utama. Di desa Sidodadi ini, kesulitan untuk menemukan salon yang tepat bagi perawatan rambut adalah hal yang sulit di-tolerir. Maka mau tak mau, harus berjalan berkilo-kilo jauhnya hanya untuk menemukan 1 salon saja.

Setelah berdebat panjang bersama soulmate, kami bergegas untuk berboncengan ke desa seberang (sebutan “desa Bringin bendo”). Dimana hanya salon inilah satu-satunya yang biasa dipakai istri Saya melancong dan hobi medicure.


Mbak Sisca, Waria Baik Yang Perhatian

Setelah berpusing-pusing (malaysia banget) dan mengunjungi satu per satu salon untuk survei. Kami memutuskan SALON SISCA-lah yang berhak melakukan perawatan rambut ini.

Pembaca tahu tidak, alasan kenapa salon Sisca ini kami pilih?…

Dari namanya sajam SALON SISCA telah dipelihara kapster yang cantik diatas kualitas terakreditasi dan siap Go Internasional.

Selain suasana yang begitu sepi, jadi menurut saya hanya orang-orang berdasi dan berkelas-lah yang bisa hadir meramaikan salon ini.

Tak lama berselang….

Saya duduk di kursi dan segera dilayani kapster.

eng…ing..eng… muncul seorang wanita (pria setengah wanita) bertubuh bongsor, berhidung mancung hasil operasi silikon menghampiri tempat tunggu.

Kapster: “Mau apa cyinnn?”

Saya: “busyet (nih orang ternyata rempong tah..bruakakakak, sambil mengerlingkan mata kepada sang Istri)

“ya mau potong rambut mbak-mas, asal jangan di apa-apain”

istri menyambut balasan serupa.

Kapster: “yeeee…g gitu jg kaleee….Maksud eyke rambutnya mau di sanggul, krimbat atau rebonding?”

Saya: “Rebonding dari selangor jeng, saya cowok mbak, masa di-bandingin ikan tenggiri pake direbonding segala……Saya cuma mau potong rambut saja mbak”

Petaka: Mahkotaku dijamah banci Salon



Kapster: “Ooo.. kayaknya udah cucok booo….. (sambil clingak-clinguk melihat bentuk tempurung kepala Saya)…..sini cyin, eyke keramasin dulu lha”

Saya: (dalam hati: mimpi apa aku semalam ketemu nih banci) “Sebelum kesini tadi saya sudah mandi junub mbak, jadi g usah saja ya?”

Kapster: ” Ya sutralah, rambutnya dibasahin dulu gih”

Setelah membasahi rambut, Saya menyatakan siap di eksekusi

Kapster: ” Mau potong model apa cyin.(sambil mijat-mijat bahu, Ini yang membuat saya ngeri).”
Sambil bingung pertanda gak ngerti karena sama sekali tidak ada gambar model rambut layaknya salon Go Internasional lain.

Saya: “Rapikan aja mbak, modelnya sperti ini. Potong 1 Cm dari atas”

Kapster: “Oooo rata 1cm yeee….”

Saya: “Iya”

Segera kaspter berinisial SISCA mengeluarkan alat potong rambut yang antik bentuknya. Tetapi yang menjadi pertanyaan Saya, kenapa dia tidak memakai gunting seperti biasanya para kapster yang lain?..

Bahkan poster model rambut nya juga minim gaya. Seolah gak enak hati, kepala Saya berasa menjadi kelinci percobaannya saja.

Karena bulan ini pria paling introvert tidak sedang mengalami PMS, sepertinya tak baik kalau terlalu intens berburuk sangka kepada orang. Jadi, Saya biarin saja sang kaspter beraksi.

Salon Waria Sidoarjo & Kepasrahan Diri

Kapster dengan jos gandos dan lihainya, mulai membabat bulu rambut Saya dengan sebuah mesin pencukur bermerk MAKITA.

Greeeeeeeeeeeeeeett Greeeeeeeeeeeeeeett (ilustrasi suara mesin pencukur rambut).

Saya lihat ke-depan, hanya bisa menunduk kecut dan sangat kecut. Hingga air liur terasa penuh untuk di telan kembali.

Saya hanya bisa pasrah. Karena rambut Saya benar-benar tersisa 1cm di-permukaan ubun-ubun.

Sambil melirik bisu melalui pantulan cermin melihat ekspresi diri sendiri, Istri saya mengernyitkan dahinya. Tanda dia juga prihatin dengan naas yang menimpa suaminya ini.

….

Potong rambut sudah selesai ,dan buru-buru membayar:

Saya: “berapa mbak”
Kaspter: “10 ribu mas” ( dalam hati saya, weekkkk kok lebih mahal 3000 dari salon yang biasa saya datangi )

Usai berpamitan pulang dan menyerahkan uang jasa, segera Saya bersama soulmate undur diri.

Tak kuat menahan tawa melihat potongan rambut ini, diperjalan-pun, Saya tidak berani berkata banyak dengan soulmate.

Mungkin dalam hatinya berbisik mesrah…”Bojoku rupane kok koyo wong bakul sembako…. 🙁


Sampai di-rumah, kedatangan kami menuai keprihatinan yang mendalam. Namun tetap berbesar hati, karena saya mampu membahagiakan orang-orang di-sekelilingnya.

Baik hande tolan/ mertua melihat potongan rambut saya, mereka tak hentinya terpingkal-pingkal.

Bahkan mertua sempat mengeluarkan kata bijak “IKU POTONGAN KOK KOYOK TENTARA DISERET ASPAL”(itu potongan kok kayak tentara diseret di aspal)

Heru Prasetyo @heru_blogermie

Pesan Moral : Mahkotaku Dijamah Banci Salon

Untuk mempermanis moral yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah:

  1. Jangan pernah menentang kehendak yang berasal dari sang kapster, dan menganggap mode ke-gaya-gaya-an salon banci itu semuanya buruk. Banci tetap seorang manusia yang juga menghirup udara dan memiliki perasaan. Patut kiranya jasa mereka tetap dihargai. Namun kalau pelanggan kurang tanggap dalam ber-komunikasi, bisa celaka akibatnya. Maka ada baiknya bagi Anda untuk tetap terus mengajaknya bicara pada saat eksekusi berlangsung. Karena jika sampai di acuhkan, banci bisa memangkas rambut kita semaunya sendiri.
  2. Jika ada opsi pemotong rambut paling praktis, pilihlah alat cukur yang tidak lazim dipergunakan salon banci. Seperti mesin pemotong rumput, atau gunting beton.
  3. Jika Anda seorang suami yang menginginkan Istri dan mertua bahagia. Sekali tempo, tidak ada salahnya mencoba jasa potong rambut dari Kapster salon waria.
  4. Sejak saat itu, Saya dan istri cocok berkunjung ke salon banci untuk merapikan rambut. Namun, kabar duka menyelimuti begitu tahu pada 2014 lalu, beliau meninggal dunia karena sakit.

Semoga kebaikan-kebaikan mbak sisca dan jasanya selama ini, di berkahi dan dinilai sebagai amal yang terpuji oleh Allah SWT. Selamat Jalan mbak Sisca.

1 komentar untuk “Salon Banci, Petaka Dibalik Mahkota Yang Terjamah”

  1. Ping-kembali: Merawat Kulit Berminyak Akibat Konflik Pacar › #Estetika | Blogermie

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!