HomeLiteraturMotivasi dan InspirasiHidup Segan Matipun Tak Mau : Skandal Cinta Palsu

Hidup Segan Matipun Tak Mau : Skandal Cinta Palsu

hidup segan matipun tak mau malah serong

Hidup..ya beginilah hidup. Keadaan dimana kita sendiri merasa betah dengan apa yang kita lakukan didunia. Segan menikmati sesuatu, namun dilain sisi, berpuas diri seolah mati-pun tak sanggup disaat problema sedang menghampiri. Pepatah cendekiawan sepakat menggunakan falsafah tersebut menjadi sebuah slogan: Hidup segan, matipun tak mau.

Hidup yang diselingi dengan 2 kubu yang bersebelahan. Antara Kebaikan dan keburukan. Adalah manusiawi.
Terkadang sebagai individu, kita dipilih menentukan 2 jalan tersebut jika situasi sedang sangat terhimpit. Ingin menjadi baik pada saat hati bersemangat, memilih jalan sesaat pada saat situasi darurat.

Jika 1 orang memiliki inisiatif berbuat baik, maka dengan seterusnya, yang lain juga akan merasakan keuntungannya. Dimana pada waktu yang bersamaan, orang baik inilah yang akan menjadi pelopor, dengan diikuti banyak pengikut dibelakangnya. Walaupun tidak menutup kemungkinan pula, orang baik, tetap memiliki banyak musuh, lantaran niat yang tulus, tidak dengan begitu mudah terbaca.

Demikian juga sebaliknya. Orang jahat dan penuh muslihat, begitulah saya menafsirkannya. Di saat manusia jenis ini berperilaku menyimpang dari kaidah dan etika, maka orang yang berada di dekatnya akan merasakan getahnya.

HIDUP SEGAN MATIPUN TAK MAU: BERHATI-HATI MEMILIH KAWAN

Beberapa akhir-akhir ini, baik di kantor dan di jejaring sosial, banyak saya jumpai orang stress ( *kebanyakan depresi akibat ulah sendiri: piutang, hasud, dan skandal ).

Perilaku aneh dari tabiat yang dulunya mengasyikkan bagi mereka karena dianggap keren dan alay, pada akhirnya telah berbalik arah menyerang diri mereka sendiri. Hidup segan matipun tak mau.

Mereka merasa tidak canggung jika menceritakan hal yang tabu di depan umum, mempublikasikannya terang-terangan suntuk dikonsumsi publik. Padahal toh, itu merupakan aib diri mereka sendiri.

Kalau saya secara pribadi, setelah mengamati dan menganalisa perilaku teman saya sendiri, Tabu, tetap akan menjadi tabu biarpun skenarionya disusun secara rapi. Karma adalah manivestasi dari tindakan yang kita tuai sebelumnya.

Ibarat menyemai bijih padi. Kalau semaian benihnya bagus, niscaya tumbuhnya juga bagus, meskipun tetap saja ditemui ilalang yang tumbuh. Itu tak masalah selagi kita rutin mencabutinya. Masalahnya ialah, bagaimana jika bibit jelek, dan lagi, sudah tahu jelek bibitnya, kok masih saja ditanam. Otomatis, tumbuh kembangnya tidak akan bisa sempurna dan malahan bisa menghadirkan hama.

******************************

Pekan ke dua, bulan juli yang lalu, saya sempat diundang acara reuni dengan 1 alumni sekolah dasar. Di curhati seseorang rekan lama yang dulunya memang sama-sama masih akrab. Saking akrabnya, saya tidak tahu kalau undangan reuni yang dibuat itu, cuma rancangan agar dia memperoleh simpati dari beberapa rekannya, termasuk saya. Semua hanya kamuflase dan materi. Pun demikian, saya belajar dari dia banyak sekali, guna belajar kaji hidup. Ternyata, yang jelek melalui cara pandang orang lain, justru memberi manfaat bagi kehidupan kita sendiri. Hanya bagi siapapun orang yang dinyana mampu menelaah makna yang tersirat.

Kalau dulu, dia memang cerdas karena gelar akademiknya di bangku perkuliahan, kaya secara finansial lantaran status keluarganya bergelimang harta, keadaan yang sekarang justru seolah berbanding 360 derajat setelah hampir 15 tahun tidak bertemu dengannya.

Badannya jauh terlihat lebih kurus, wajahnya juga terlihat semakin menua. Terlihat sangat jelas kerut-kerut di dahi walaupun secara kasat mata, usianya masih seumuran dengan saya saat ini. Berjam-jam lamanya saya mengobrol. Menceriterakan kehidupan kami sesudahnya.

Kalau saya sudah cukup puas menikmati hidup dengan didampingi seorang istri jadul (ely the gembel) yang sederhana, maka rekan saya ini hanya memilih diam tanpa banyak jika disinggung kehidupan pribadinya. Biarpun tengah bersuami, dia sepertinya ragu mengutarakan maksud hatinya kalau kehidupan rumah tangganya sekarang ini, jauh lebih berantakan dari impian. Alias cacat rumah tangga.

Setelah mendesaknya cukup lama lantaran teman saya ini mudah sekali berkelit dan memang seorang player, akhirnya saya memperoleh riwayat kehidupannya dari penelusuran teman-teman dekatnya.

Mencengangkan bagi saya. Karena pernikahan rekan saya ini berasal dari hubungan gelap. Disinilah peliknya persoalan datang secara beruntun setelah suami pertamanya meninggal dunia. Sebelum cerai dengan suami pertamanya, diketahui rekan saya ini lebih dulu menjalin skandal dengan orang lain, yang diketahui adalah teman kuliahnya sendiri. Yang kini telah syah menjadi suami ke- 2 nya

Teman saya ini saya ini juga memiliki tabiat buruk. Dia lebih suka uring-uringan. memperlakukan teman-teman saya lainnya dengan cemooh dan kalimat kasar. Ditambah lagi statistik pekerjaannya yang tidak menentu, menutup ketidaktahuan banyak rekannya sendiri bahwa Ia kerapkali berbohong perihal profesinya. Padahal setelah diselidiki dengan seksama, dia hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Menurut pengakuan tetangga.

Selain kurang bisa menjaga sikapnya sebagai perempuan, alasan unik yang dia lakukan agar bisa mendekati banyak pria adalah tuntutan materi. Karena di kehidupan rumah tangga yang sebelumnya, ia memang terbiasa hidup mewah. Segala yang ia inginkan, selalu tercukupi di masa itu. Begitu tahu menikah untuk kedua kalinya, krisis ekonominya jebol, demi sebuah tuntutan yang tak ada jalan akhirnya. Semua demi uang.

Tak jarang, dari beberapa teman saya, banyak dikelabui untuk bersedia membelikan sesuatu yang ia butuhkan. Bahkan ia segan menjalin hubungan terselubung dengan salah seorang teman saya juga. Sayangnya, teman saya yang pria tersebut, malah sengaja bermain-main dengan api. Melenggang saja, tak peduli dengan nasiihat rekan yang lain.

Teman saya yang pria itu, juga sering bertamu. Disaat suami si wanita pergi bekerja menjelang subuh, tetangganya tidak menutup mata begitu saja. Meskipun cukup sadar diri, jika teman saya yang wanita itu telah memiliki anak dan suami. Nauzubillah

Sering di ketahui pula jika keduanya kerap bertemu di satu tempat yang orang lain tak tahu. Dengan harapan hubungan asmara keduanya tidak terendus siapapun, bahkan sekalipun dari jangkauan sahabatnya sendiri.

SIAPA SENANG BERMAIN DRAMA, AKAN MERASAKAN PEDIHNYA KARMA

Sebenarnya saya sendiri, sudah cukup muak mendengar cerita dan gosip yang ada. Seolah tidak ada satupun kabar sedap yang bisa dibanggakan dari rekan saya tersebut.

Yang membuat saya terkesima justru: dengan melihat, mendengar, dan mengkaji kehidupan seseorang, ternyata bisa dijadikan cermin hidup pribadi juga. Tak boleh disesali, tak boleh pula untuk dicaci. Semua itu merupakan media pembelajaran menuju proses yang Hakiki, ujar guru ngaji saya.

Bulan November, di tahun yang sama, tersiar kabar duka. Teman saya yang pria itu kepergok warga sedang bertamu di rumah teman saya yang wanita. Kabar perselingkuhan itu ternyata sudah terdengar hingga telinga suaminya sendiri. Maka jalan terbaik adalah mengeksekusi keduanya.

Teman saya yang pria, babak belur dikeroyok warga. Sementara teman saya yang wanita, menanggung malu karena disaksikan oleh suaminya sendiri. Bahkan ia membuat alibi palsu agar terhindar dari amukan suami dan warga, kalau cintanya kepada teman saya yang pria itu lantaran sepeda motornya yang terlanjur keren. Maklum motor sport. gelap mata dan pandai berpura-pura, begitulah apriori para tetangga.

Baca juga : Dia yang Ragu, pertanda tak serius mencintaimu

Apapun alasannya, pengakuan si istri tidak mudah diterima karena membuat hati pasangannya begitu terluka. Sang suami yang begitu kecewa, belum mengambil tindakan apapun untuk berurusan dengan pengadilan agama. Disamping masih terlalu cinta, meski istri sudah berani dengan lancang mendua, nampaknya memang sudah menjadi jalannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!