HomeLifestylePregnancy dan Pertolongan Mengharukan Indosat Super Wi-Fi

Pregnancy dan Pertolongan Mengharukan Indosat Super Wi-Fi

Ketika Mobil Taxi sudah menempuh hampir setengah perjalanan, entah angin segar apa yang membuat pendarahan itu berkurang secara perlahan. Meskipun rasa sakitnya tak kunjung pulih.

Pun begitu, tindakan medis tetap berlaku untuk mengetahui keadaan si-buah hati didalamnya. Saya memberi isyarat kepada pak sopir untuk tetap melaju kencang.

Jam 06.15, kami tiba dengan cepat. Jauh yang saya perkirakan karena limit waktu yang terbatas, disamping kondisi lalu lintas yang masih sepi.

Mungkin inilah yang saya sebut keberkahan. Hingga menanti 2 orang perawat medis di pintu gerbang UGD yang menyambut kedatangan kami dengan sangat cekatan.

1 buah tandu dorong telah dipersiapkan dengan sangat responsif, segera sang istri dibawa ke ruang tindakan untuk mendapatkan perawatan intensif.

Lahan Parkir RS Bakti Rahayu

Cuaca terlihat mendung, pertanda akan mulai turun hujan. Kondisi muram tersebut hampir sama dengan psikologi saya yang mulai kehilangan akal sehat. Karena keadaan genting masih belum berhenti sampai disitu.

Kini giliran saya harus membayar ongkos taxi kepada pak sopir. Mungkin karena faktor terburu-buru tadi yang mengakibatkan dompet saya tertinggal dikantor. Sementara saya sendiri tidak punya bekal apapun kecuali 1 buah hp Sony Ericsson Aspen.

Mulai timbul keputus asa-an. Dengan berterus terang ala kadarnya, saya mengutarakan maksud tidak sanggup membayar ongkos Taxi.

Yang tersisa hanyalah sebuah harapan kosong menggadaikan/menawarkan hp tersebut sebagai bentuk tanda jadi

Namun, dengan tatapan penuh iba, pria paruh baya bernama Pak Wasis tersebut hanya melempar senyum kepada saya, sambil berkata:

Ndak usah mas…sampean simpen saja hpnya. istri sampean lebih membutuhkan kasih sayang dari hp itu..

Nanti kalau hpnya buat tebusan, sampean telfon pake apa?

Untuk ongkosnya, gak usah difikirkan, Saya ikhlas ‘Lillahi Ta’ala’.

Yang penting sekarang sampean kudu sabar dan fikirkan keslamatan anak dan Istri saja

Saya tertegun dengan kalimat bijak yang diucapkan beliau tanpa sanggup berbuat apa-apa. Tapi tetap teguh dengan pendirian menolak permintaannya, namun rasanya sangat sia-sia bagi saya. Pria bijaksana ini secara diam-diam menyingkir membawa taksinya memecah keheningan pagi. Seraya melepas kepergian bapak itu, saya-pun menengadahkan kepala guna menutupi ekspresi.

Saya hanya pasrah, ingin tuhan yang maha kuasa ridho dengan jerih payah bapak itu. Terselip sebuah munajat doa untuk dapat dengan segera membalas budi baik bapak tersebut jika tuhan mengizinkan kami bertemu kembali. Besar harapan pula, dengan memberi kekuatan untuk menghadapi situasi ini dengan penuh kesabaran.

Gerimis mulai membasahi areal rumah sakit. Saya yang mulai basah kuyup berharap derasnya hujan tersebut jangan lekas mereda. Dramatisir seorang pria melankolis agar orang lain tidak ikut merasakan kalau dirinya sedang mengalami kepedihan.

Saya mencoba memanipulasi keadaan dengan membiarkan tetesan air membasahi kening. Seolah tak ingin orang lain tahu kalau saya sedang menangis kala itu

Komentar ditutup.

error: Content is protected !!