HomeLifestylePregnancy dan Pertolongan Mengharukan Indosat Super Wi-Fi

Pregnancy dan Pertolongan Mengharukan Indosat Super Wi-Fi

Dibalik guyuran hujan, saya berjalan gontai sambil menundukkan kepala. Sesekali mengelap air mata beserta rintik hujan bercampur ingus yang berasa gurih seperti telor asin ala brebes. Seolah tak peduli, saya bergegas menuju meja resepsionis untuk menanyakan keadaan istri saya.

Meja Resepsionis

Setibanya di meja si resepsionis. Resepsionis dengan ramah mengatakan bahwa kondisi istri saya sedang ditangani dokter jaga kandungan yang cukup berpengalaman. Saya tidak perlu merasa khawatir,

“yang penting bapak banyak-banyak berdoa dan sabar” Tukasnya menghibur
………….

Observasi tim medis berlangsung kurang lebih 1 jam. Sementara saya yang tidak diperkenankan masuk, makin dibuat bingung tatkala seorang perawat menghampiri. Menyodorkan sebuah file berisi nota pendaftaran pasien beserta sampel darah untuk ditandatangani, untuk kemudian dilaksanakan Tes Rekam medis.

Kondisi mental yang terlanjur gundah gulana, tidak memungkinkan membuat sebuah alibi menyesatkan untuk menggadaikan Hp ini kembali. Mengingat rumah sakit ini adalah sebuah instansi pelayanan kesehatan, bukan biro pegadaian…
C-A-T-E-T!!

Sebagai figur suami yang bertanggung jawab, saya sadar diri. Meskipun tidak mengantongi uang sepeser-pun, Saya tidak ingin menjadi pengecut dengan jalan mengemis. Minta belas kasihan orang lain untuk kedua kalinya.

Untuk itu saya meminta sedikit kelonggaran kepada si-perawat mencari tempat bersemedi.

“Suster, Kasih saya waktu sebentar”
“Baik pak, jangan lama-lama, segera akan terselesaikan setelah bapak melunasi biaya pendaftaran”
ujar perawat itu

Timbul sebuah inisiatif untuk melarikan menenangkan diri di kantin yang kebetulan bersebelahan dengan UGD.

Aktivitas umumnya orang berkunjung ke sebuah rumah makan untuk sarapan atau menyemil, saya tidaklah demikian. Saya lebih memilih duduk menyendiri dan melamun, menghela nafas panjang sambil menghisap sebatang rokok agar pikiran lebih tenang.

Tak luput yang menjadi perhatian kala itu adalah memandangi dengan teliti Hp sony Ericsson Aspen yang sedang saya pegang. Membolak-balikkan casing dan body belakang.
Saya berfikir solusi lain yang relevan untuk mencari manfaat dari Hp ini tanpa harus menjualnya.

Bahkan sampai etika tak wajar-pun saya lakukan seperti mengelus-elus dan menggosoknya. Agar sebuah imajinasi lain timbul dalam bentuk Bundadari atau “Jin 76” yang sanggup mengabulkan 1 permintaan.

Sambil menggumam:

“OM-JIN!!!aku kepengen ganteng Pulang!!!, dan kembali seperti sedia kala”

Namun sayangnya, imajinasi diatas hanyalah khayalan seorang pria dekil yang dilatar belakangi perilaku depresi.

Sudah tentu, hal tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan. Tterkecuali saya berada di dimensi waktu ala Doraemon maupun tinggal di Dunia ghaib versi Eyang subur.

Hal paling realistis yang mungkin terjadi ialah saya terlanjur dicap gila oleh pengunjung maupun pasien rumah sakit setempat.

Komentar ditutup.

error: Content is protected !!