HomePersonalGENERALUnauthorizedBelajar Sehati Menjadi Ayah

Belajar Sehati Menjadi Ayah

menjadi ayah untuk irma
waktu irma masih kecil. wajahnya tomboy seperti pria. Hidungnya juga mekrok

Bingung dan gugup. Mungkin kalimat ini yang sesuai untuk membuka awal tulisan ini. Entah sudah berapa minggu blogermie [dot]com terpaksa saya anggurin. Terdapat dua dilema sebenarnya. Belajar mawas diri menjadi tua secara pemikiran, dan belajar menjadi ayah karena didatangkannya kejutan memiliki anak.

1 minggu berselang, saya sudah tidak hafal lagi skill menulis anekdot. Saya benar- benar merasakan hilang ingatan. amnesia, dan instring menulis saya dirudung penyakit malas. Semua rumusan yang terhimpun rapi dalam ingatan, tiba tiba membuat saya tidak berselera menulis. Belum lagi beberapa kepentingan yang berskala prioritas, makin lengkap sudah kefokusan itu.


Menjadi ayah untuk pertama kalinya, sungguh menyita perhatian. Mengasuh anak sekaligus memanjakan ibunya, nampak seperti pemandangan asing buat saya. Nilai tambahnya, harus disikapi dengan lapang dada diselingi canda tawa.

Baca juga : She Is : Irma Herliana

Beberapa hari yang lalu, istri saya mendapatkan sebuah sms dari ayah kandungnya yang berisi hal yang menurut saya pembelajaran. Intinya isi dari sms tersebut adalah agar senantiasa tidak sekali-kali meninggalkan doa. Mengucap kalimat-kalimat thoyibah(baik).

Bukan karena saya sendiri takut kepada beliau, tapi memiliki mertua yang notabenenya seorang priyayi membuat saya agak fanatik beragama dan takut juga. Ketertekanan yang mungkin tidak saya sengaja, timbul dari alam bawah sadar saya. Intinya, saya harus bisa begini-begitu, fleksibel menjadi dewasa. belum lagi nasihatnya seperti Pil berukuran jumbo yang maunya beliau harus serta merta saya telan, jika memang tujuannya adalah mencetak dan mendidik anak. Maklum, mungkin ini cucu pertamanya.

Menjadi Ayah yang sesuai kemauan orang lain, terkadang belum tentu baik bagi kehidupan kita sendiri, Apalagi jika dibubuhi sentimen keagaamaan, inginnya semua berjalan sesuai standart syariah. Padahal didalamnya, suratan sudah berperan. Kita hanya mau berfikir logis, tanpa berupaya berfikir (mensyukuri) mendalam bagaimana keterlibatan Tuhan disitu.

Kalau beliau memasukkan faktor kepercayaan sebagai rumusan, demi mencetak generasi yang lebih kuat dan pintar, itupun hanya sebuah metode, dan syah-syah saja bagi saya. Syariat mengajarkan kita agar jangan berputus asa jika berikhtiar.

Tapi sekali lagi, jika rumusan yang beliau buat, harus dipaksa agar rencana kedepan selalu berbuah manis, saya tak sependapat. Karena alam tidak bekerja berdasarkan kepercayaan manusia seperti rumusan yang beliau buat.

Tetapi syukurlah berkat beliau, saya banyak belajar dalam menyelesaikan sebuah perkara baru dalam menggapai kehidupan. Dan satu hal yang tengah saya abdi pada diri sendiri ialah belajar sehati dengan 1 anggota keluarga baru yang sedapat mungkin memotivasi ayahnya agar terus lebih baik lagi.

Sekian dan salam rukun

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!