HomeCorat - CoretPenjual Es Degan, Motivasi Hidup Hanya Berbekal Sebilah Parang

Penjual Es Degan, Motivasi Hidup Hanya Berbekal Sebilah Parang

Penjual Es Degan, Motivasi Hidup Hanya Berbekal Sebilah Parang | Hari telah lewat dengan mata tak juga terpejam. Hingga matahari terbit dari ufuk timur menggantikan rembulan yang berangsur-angsur lenyap, saya masih belum bisa terlelap untuk beberapa saat.


Serial mandarin AfterShock yang tayang di Global TV dini hari, membuat saya terjaga semalaman.

Melewati deretan kaki lima, seperti kebiasaan yang sudah-sudah menjelang bel masuk kerja berbunyi, disini saya berjumpa banyak orang. Diam-diam mencuri arah pandangan, mengamati mereka, untuk kemudian bertegur sapa. Tak lupa pula memesan sarapan dan segelas Es Degan, untuk kemudian meluangkan sedikit waktu demi melakukan pengamatan.

Lama berselang, Mata saya tertuju ke sebuah pemandangan. Kepada seorang ibu yang membawa sebilah parang tajam dan mengkilat. Menghampiri gundukan buah kelapa muda, yang siap ia belah menjadi 2 bagian. Semakin membuat saya terdiam, saking penasaran.

Baca Juga:Diam, Kelemahan sebagai pangkal Ilmu Yang Menguntungkan

Berulang kali beliau dirinya mengayun goloknya dengan tegas, tak mencerminkan keraguan yang nampak di wajah ibu ini. Tekatnya kuat seolah tak peduli, meskipun tak menutup kemungkinan, jarinya yang kena tebas goloknya sendiri.

Kini, beberapa butir kelapa muda yang berhasil dikupasnya dengan cepat, akan memasuki tahap selanjutnya, sebelum diolah menjadi minuman penghilang dahaga. Kelapa-kelapa muda yang telah dikupas kulitnya tadi, untuk kemudian diambil airnya, dikerok pula isinya. Dagingnya diambil secara terpisah untuk kemudian dimasukkan ke dalam 1 wadah.

Untuk mempertahankan cita rasanya, beliau juga punya tips sendiri. Agar tetap utuh, degan yang telah ia kupas, selalu dimasukkan ke freezer.

Dibantu anak perempuannya, ibu penjual es degan memancarkan kharisma. Salah satunya ketika beliau bersikap santai melayani setiap pembeli yang datang. Sambil mengupas kelapa, ia tak segan untuk bercanda dengan para pelanggannya.

Lama saya tertegun dibuatnya. 15 menit mengamati beliau sambil berdiam diri, ada sebuah kekuatan dan isyarat yang tercuri. Bahwa adakalanya emansipasi wanita itu, memang patut untuk dipandang dan dihargai. Tak boleh disepelekan.
Disaat tugas pria sebagai pemikul tanggung jawab sekaligus pemimpin yang katanya amanah demi kewajiban memberi nafkah, dinilai parlente dan mewah, ternyata torehan yang sama bisa berlaku sebaliknya, untuk wanita.

Bagi saya, tentu saja hal tersebut menggembirakan. Yang mana menunjukkan bahwa sudah seharusnya ada peningkatan kesetaraan gender di dunia kerja nasional. Walau begitu, ibu pekerja seperti beliau, masih menghadapi problema yang sama: mereka berjuang menyeimbangkan karir dan tugas rumah tangga.

Pasalnya, mayoritas ibu pekerja seperti beliau, masih menjalani seluruh aktivitas yang skalanya prioritas. Seperti mengasuh anak, memasak, dan membersihkan rumah. 

Oleh karenanya, jika merunut yang apa yang telah terjadi dibalik profesinya sebagai penjual es degan hari ini, beliau telah memberi saya 1 kajian hidup lagi. Agar memperlakukan wanita, dan sesama harus adil dan sama baiknya. Agar wanita tak boleh lagi dipandang rendah. Tidak boleh menyerah pada zaman, itu kuncinya.

ibu penjual es degan
︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!