HomeLifestyleTangga Aluminium dan Kisah Sobirin

Tangga Aluminium dan Kisah Sobirin

Jalannya tertatih dengan memanggul Tangga Aluminium disebelah bahu kanan, sedangkan di bahu yang satunya, menjinjing Jemuran alminium yang sama beratnya

Di dunia ini, tak sedikit orang yang gagal dalam menjalani kehidupannya. Hal tersebut bisa terjadi karena keputus-asa an dan semangat hidup yang mendadak hilang. Padahal yang perlu kita semua pahami adalah segala hal yang terjadi dalam hidup ini sudah menjadi takdir sang pencipta.

Jadi, mengelaknya merupakan sesuatu hal yang tak mudah untuk begitu saja diterima. Manusia yang hidup di dunia, hanya tinggal memilih. Tegar menjalaninya dengan usaha dan senantiasa memanjatkan doa atau menyerah menerima suratan. Doa tidak akan terkabul tanpa adanya usaha sehingga diperlukan keseimbangan antara keduanya.


Mungkin inilah yang menjadi sebab cerita ini bermuara, tangga bambu yang saya pakai selama ini dengan tujuan meringankan pekerjaan rumah, memperbaiki genteng dikala musim penghujan, dan memasang instalasi listrik …akhirnya patah karena lapuk. Sehingga mau-tidak mau, Saya juga merasa bahwa Tuhan cukup penyayang membuatkan sebuah cerita.

Dengan memundurkan alur cerita untuk beberapa saat, artinya saya harus kembali menceritakan keinginan untuk membeli tangga aluminium, yang baru kesampaian hari ini.

Disaat dilanda krisis kebingungan mencari Tangga yang lebih kokoh, saya menjumpai penjualnya dengan maksud lain… agar mendapatkan barang yang dikehendaki dengan harga yang lebih terjangkau.

Berapaan Tangganya?. Saya bertanya kepadanya yang sedang duduk berteduh di “Cangkruan” sambil mengibaskan topinya pertanda gerah.
Ia lalu menjawab lirih, begitu lirihnya hingga saya tidak mendengar dan kembali mengulang pertanyaan. “Saya buka harga 450ribu om, Kalau ditawar gapapa“.
Saya bertanya lagi sambil perlahan duduk di dekatnya. “Hmm…300 ribu Gimana, boleh tidak?

Sore itu Sobirin yang mungkin baru berumur 15 atau 16 tahun tampak kelelahan dan berhenti sejenak untuk menyandarkan tubuhnya disebuah pos kecil di sudut desa. Tentu saja pemahaman untuk bekerja dan memperoleh banyak uang menjadi satu alasannya harus putus sekolah, karena yang ia tahu, orang tuanya sudah tidak bisa lagi membiayai. Tapi bagi Sobirin, pekerjaan apapun ia lakukan agar terus dapat menyambung hidup.

Sobirin bukan satu-satunya anak yang berkelahi dengan waktu memasarkan produk perkakas tersebut. Dibantu temannya, Sobirin hanya satu diantara penjual/sales dengan usia yang masih terlalu muda untuk bekerja. Berkeliling dan mondar-mandir, berharap ada 1 barangnya yang bisa laku terjual.

Ada banyak peralatan berbahan dasar aluminium yang harus dijual. Tidak ada target khusus memang, namun kalau 1 barang tidak terjual, itu tandanya ia tidak akan memperoleh bonus. Nampak tak adil dengan pengorbanannya. Lama berkeliling dari tempat ke tempat, pagi sampai sore menjelang.

Aktivitas ini ia lakukan hampir tiap hari. Sobirin berkata, ia sedang mencari sesuap nasi bukan untuk dirinya saja, tapi juga keinginannya membantu orang tua. Saya agak terkejut mendengar jawaban itu dan kembali mengajaknya berbincang.

Menurut Sobirin, ia sudah terbiasa melakoni kehidupan keras ini selama 3 tahun. Begitu keras hidupnya, sebelum menjalani profesi tersebut, ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan di tanah kelahirannya, Mojokerto.

Obrolan kami semakin cair. Sobirin tampak tidak tegang lagi dalam berbincang. Apalagi saat saya bertanya kembali dengan penawaran harga yang pas untuk 1 buah tangganya tersebut. Ia menjawab “375 ribu deh om“. Sayapun bertanya lagi: “Masa sih gak boleh kurangheheeh“.
Sobirin diam sejenak, alisnya tampak terangkat sedikit lalu kembali menjawab: “Ya udah, Om maunya berapa?“. Saya tersenyum mendengar jawaban itu. ”Penawaran terakhir, 320 ribu deh”.

Ia tersipu mendapat pertanyaan seperti itu. Kepalanya menggeleng tanda tak mau. Sayapun kembali tersenyum dan kemudian menuntunnya mengobrol 4 mata tanpa ingin didengar siapapun, agar dirinya tidak canggung.

Tangan kanan saya menepuk punggungnya, merentangkan lima jari meraih jaketnya dan mengajaknya berpindah lokasi. “Ayo mampir sekalian kerumah ,Sobirin”. Ia pun mengikuti saya dari belakang, berpindah lokasi dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Tangga Aluminium

Diteras rumah, saya menjamunya dengan snack dan minuman ala kadarnya. Sobirin mulai melihat keadaan sekeliling, dan mulai memandangi satu persatu penghuni rumah. Topik Obrolan mulai meluber kemana-mana, Sayapun terkekeh.

Sekitar 20 menit kami berbincang di teras rumah, Akhirnya Sobirin menyerah dengan harga yang saya tawarkan. Ketika saya bertanya apakah tidak berat memanggul tangga aluminium itu seorang diri. Sementara dengan posisi bahunya yang kecil itu, ia sendiri kerepotan memanggul perkakas yang lain. Namun, dengan tegas ia berkata tidak.

Sobirin tidak memiliki banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaan saya, karena dilain tempat, dia juga telah dinanti mobil yang mengangkut rekan-rekan satu profesinya. Saya tetap membayangkan itu tidak mudah untuk anak seumurannya.

Sobirin semakin jauh dari pandangan. Hari itu entah apa yang akan ia pergunakan dengan uang Tiga Ratus Lima Puluh Ribu, hasil pemberian dari saya.


︾ BAGI JIKA INI BERMANFAAT ︾

Dan diharapkan Sharenya

apabila dirasa perlu 🙂
Name
Comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!