HomeLifestyleMukamah, Balada Tak Berujung dari Lahirnya Sebuah Duka

Mukamah, Balada Tak Berujung dari Lahirnya Sebuah Duka

Mukamah, Balada Tak Berujung dari Lahirnya Sebuah Duka | Seandainya Bapakmu tidak nekat merantau... seandainya waktu itu, aku bisa mencegahnya….mungkin saja….maut bisa ditawar.

Itulah kata yang menghias bibir Mukamah sebelum pergi dan beranjak dari posisinya melantai. Menghadap layar televisi yang menyuguhinya tayangan Sinetron, berisi pepesan kosong. Garis wajahnya nampak jela, saat beliau tertegun. Terurai air mata di sela kisahnya meratapi nasib negeri yang telah membesarkannya.

Ibu dua anak yang merasa kerinduan kepada Suami pertama, tetap memuncak. Masih menjadi motivasi yang membekas, meski rona zaman telah memudar.

mukamah
Ibu Mukamah

Atas nama cinta, tentang seorang wanita yang saat ini tak tahu lagi cara menambatkan hati. Meski harus menghadapi kenyataan tersebut dengan tetap tegar.

Firasat baik yang datang sekali seumur hidup, hanya menghampiri beberapa jenis manusia yang memiliki hati terbuka.

Pertunjukan drama dalam menjalani hidup, sejatinya tokoh perncerminan diri. Demi peran yang kita mainkan tidak membutuhkan skenario dalam bentuk yang mengada-ada, kecuali kesederhanaan dan rindunya kebersamaan.

Baru pertama kali ini Saya menyaksikan beliau tidak setengah hati dalam bercerita. Saya benar-benar terkesima dan larut oleh tikungan hidupnya.

Pertemuan Mukamah


Tersebutlah sebuah nama Suwito. Preman asal Jember dari desa seberang yang sudah kenyang masuk bui. Meskipun bagi aparat desa, dia dianggap benalu karena seringkali cekcok dengan pemuda setempat. Hampir tewas dibakar massa. Hanya lantaran melakukan tindakan tak terpuji.

Hingga pada suatu ketika, pada tahun 2006, beliau memutuskan hijrah ke Demak. Untuk mencoba peruntungan dengan beralih profesi sebagai buruh konstruksi.


Lain Manusia, lain pula tabiatnya. Saat untuk pertama kali keduanya bertemu, watak keduanya ini ibarat langit dan bumi namun saling melengkapi kekurangannya satu sama lain.

Mukamah seorang wanita sederhana. bBaginya, ia mungkin ditakdirkan menderita seumur hidup. Pernikahan yang menurut sebagian tetangganya di Jawa tengah adalah kegagalan. Dari polemik status sosialnya saat itu sebagai janda, stigma yang kemudian mendulang kutukan.

Beliau dihujat, dimusuhi habis-habisan tetangganya yang tak lain saudara kandung dari almarhum suami sebelumnya. Beliau sadar hati dan tak pernah murka di depan manusia-manusia ini. Beliau tegak berdiri dan memikul beban itu sendiri.

Sementara 2 Putra kandungnya yang kala itu mulai memasuki bangku sekolah, tak sanggup lagi berfikir realistis. Antara melanjutkan sekolah atau berkelana demi menigkatkan taraf hidup yang lebih baik.

1 dari dua anak ini, si Bungsu, bahkan pernah kecanduan menghisap lem (Red: Ngelem). Beruntungnya tidak sampai terjadi kerusakan otak fatal, yang kemudian membawa perkenalannya dengan Suwito. Figur Bapak tiri rendah hati meskipun cangkang seorang tukang palak yang aura beringasnya kini telah meredup usai menikahi Mukamah.

Suwito sendiri memiliki karakter Louis  XVI, sewaku melajang dulu. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Mukamah, mendadak sikap yang otoriter, tiba-tiba hilang begitu saja.

Sejak pak penghulu memberikannya sangsi apabila Suwito memang tidak berniat merubah diri, pantang bagi Mukamah untuk dinikahi.

Yah… di era ini, Napoleon Bonaparte itu adalah pencitraan diri Suwito. Beliau Tegas, dan saya akui itulah yang sampai saat ini saya kagumi


Benih Kebaikan Yang Ditanam


Suwito melatih si Bungsu ini untuk bekerja dan bekerja. Kemandirian itu harus ditanam dengan mengimprovisasi cara bertahan hidup Suwito yang kerap berpindah-pindah.

Mungkin modal itulah yang cocok, menjadi bekal. Jika mengetahui bahwasanya, tidak ada kelebihan SDM yang mampu dilirik Suwito terhadap anak putus sekolah macam ini. Selain memberdayagunakan fisik dan tenaganya.

Berbeda dengan si Sulung, si Bungsu ternyata memiliki rasa keingin tahuannya terhadap dunia luar. Ia belajar dengan sangat cepat secara otodidak. Pekerjaan kelas berat (terutama yang tidak membutuhkan banyak kecerdasan) mampu dikuasai dengan tempo yang relatif singkat. Memanggul Gergaji mesin, membelah, memotong, bahkan bercocok tanam. 

Sementara si Sulung, hanya memilih diam di rumah. Seraya menunggu berkah jatuh dari langit.

Sambil menemani masa lansia sang-Ibu dirumah, si Sulung rela sekedar membantu seadanya. Termasuk modal asuransi dari mendiang Almarhum, yang kemudian disulap sang Ibu menjadi kios kecil di depan rumah


Tuhan Memberikan Pencapaian, Bagi Insan Yang Kuat Bertahan


Diawali usia yang relatif muda 13 tahun, balada sedih Si Bungsu-pun dimulai. Terhitung banyak kawasan negeri ini yang pernah dijelajahinya. Profesi silih berganti pernah dilakoninya, mulai dari Tukang batu, Kuli panggul, dan Buruh konstruksi. Bahkan diusia itu, si Bungsu sudah pernah hidup dihutan sebagai penebar benih pohon Akasia di Lampung.

Atau juga pekerjaan ekstrem mengecat gedung pencakar langit tanpa menggunakan safety belt, kala itu di Banjarmasin.

Atau, yang tidak kalah ekstrem lagi saat di Bali. Adalah mengelas Baja kostruksi sebagai Jembatan beton di bawah permukaan air laut. Itupun dilakukan di waktu tertentu…dengan mengandalkan pasang surut air laut. Membayangkan bagaimana kondisi tekanan udara dan minimnya oksigen saja, membuat hati ini jadi getir.

Pada saat usia si Bungsu menjulang 20 tahun, Suwito mulai melepasnya sendirian didunia luar, bergulat dengan waktu.

Si Bungsu mulai terbiasa dengan cara hidup tidak menetap tersebut. Dengan status ikatan Ibu-Anak masih tetap terjalin meskipun selama 5 tahun hampir tidak pernah bertatap muka secara langsung.

Terakhir cerita yang didengar sang Ibu, si Bungsu sudah terlanjur makmur dengan gaya hidup orang Bali. Bukan sebagai Gigolo…melainkan sebagai Supervisor Laundry di satu Hotel kecil di sana.


Di Bali itulah, si Bungsu mengenang kembali kondisi terakhir almarhum bapak kandungnya menutup mata secara tragis. Kepala si Bapak pecah, tertimpa Alat kontruksi saat sedang asyik menikmati Jam makan siang.

Si Bungsu hanya merenungi nasib naas Bapaknya di seonggok batu nisan. Karena kronologinya berlangsung relatif cepat, dan juga… terbilang dini untuk memahami arti kehilangan. Saat si Bungsu masih berusia 7 Tahun.

Negeri ini sudah sangat durhaka merenggut keutuhan hidup, dan lupa cara berterima kasih…Kepada siapa lagi negeri ini harus berbudi dan memberinya makan kalau bukan pekerja-pekerja suruhan seperti almarhum bapak.


Itulah yang membuat berjuta perasaan seorang wanitaseperti Mukamah, akhirnya tandas dan hancur. Alasan terpendam yang menyimpan kerinduan mendalam. Hingga kini belum pernah sekalipun dijawab…

Kenapa ketika si Bungsu bertanya perihal kondisi bapak, ibu terlihat canggung dan selalu menuai banyak tangis

Bersambung….

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!