HomePersonalMentari Berufuk di Langit Nganjuk

Mentari Berufuk di Langit Nganjuk

Mentari Berufuk di Langit Nganjuk | Gelapnya langit mulai memudar menjadi biru muda, bercampur atmosfer Kertosono yang dingin sangat terasa di sekujur tubuh. Reunian semalam hampir tak berhasil membuat mata terpejam meskipun rasa kantuk terus menyerang. Saya beserta 3 teman lainnya berhasil melalui sepertiga malam ini dengan cara yang paling asyik. Terpekur di keheningan malam sekaligus menyeruput kopi tanda mengusir bosan.

Perbincangan kami, Ngalor ngidul tak karuan. Namun tak ada satupun yang terpotong lantaran topik obrolannya cukup menghibur suasana malam yang hening. Ditambah memang kondisi gemeramang malam kala itu, agak menusuk bulu roma.

Selain Posisi rumah yang kebetulan agak wingit lantaran berada di sudut perkampungan penduduk, jarang berpenghuni, tersiar kabar bahwa sebelum rumah teman saya ini dihuni, penduduk sekeliling sering dihantui penunggu rumah ini, sering menampakkan diri, Dengan bermacam bentuk dan aktivitas tak lazim.

Tepat disebelah kamar Pakde Suroso, penampakan Kuntilanak seringkali muncul menghantui tetangga sebelah. Tangannya seringkali diketahui melambai seperti perempuan berparas cantik yang hendak meminta pertolongan. Momennya kadang tak pasti. Terkadang bisa menjelang maghrib, kadang pula tepat pada hari-hari jawa yang diyakini sakral menurut adat setempat.

Belum lagi keberadaan kebun bambu yang berhadapanm persis di tempat kami nongkrong, membuat Arip, rekan saya lebih memilih tidur mendahului, Bagi Kami, sekalipun tidak merasa terusik. Kami memilih tak peduli, Terus intens meneruskan aktivitas ngopi.

Baca Juga : Warkop Samsuri, Mainstream Terkini dibalik Aroma Kopi

Ibu si pemilik rumah yang masih orang tua kandung teman saya juga tidak merasa keberatan, menjamu kami dengan nasi dan beberapa cangkir kopi. Meskipun ada beberapa momen yang terlewat. Jam 00.30 pagi, satu diantara teman kami memilih berpamitan lebih dulu untuk tidur.

Sesudah Turun Shubuh, Pandangan saya mendadak terpaku di ufuk Timur, tepat di atas tanggul Sungai Brantas. Sedikit kata yang mampu melukiskan:

Matahari yang sama  Diujung timur, dia mengambil masa mudanya sebagai Fajar. Yang selalu sama di ujung barat apabila dia berpamitan untuk pergi, menjejak masa rentanya sebagai senja.  Demikian adanya sebuah janji setia yang senantiasa ditepati. Allahuakbar

Mentari Berufuk di Langit Nganjuk
Mentari berufuk di Langit Nganjuk
Arsip Nganjuk: 11 September 2016

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!