HomePersonalKuntilanak Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana?

Kuntilanak Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana?

Kuntilanak Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana ? | 11 September 2016, untuk kedua kalinya saya mencoba menerobos masuk “kearifan lokal”. Saya bersama 3 orang teman lainnya ngterip di tempat lain. Oh, sungguh… atas nama ibu pertiwi… saya senang sekali jika berada di tempat sepi. Hening pula.

Suasana pedesaan di saat dini hari, identik dengan wingit. Sebuah rumah kuno yang kini ditempati Bulek Kasih dan Paklek Suroso di Kertosono, sepertinya pantas untuk menjawab rasa penasaran kami akan mitos estafet bahwa di rumah ini memang dihuni seekor kuntilanak.

Baca Juga : › Mentari Berufuk di Langit Nganjuk

WAJAH KUNTILANAK ASLI

Hangat, begitulah sensasinya. Karena dengan menjadi Peka, justru malah menjadi dilema besar bagi saya. Kemana-mana, selalu terasa. Kemana-mana-hawanya terasa menempel di punggung dan lengan kiri saya. Betapa tidak, meskipun saya tidak tengah berhalusinasi dengan wujudnya, tidak bisa melihatnya dengan jelas menggunakan mata dohir, tetap saja energi yang dipancarkan seolah menunjukkan isyarat kehadiran kuntilanak itu, dimanapun berada.

Garis besarnya ialah : ›

  1. Jika ingin peka dengan kehadiran makhluk gaib, maka jangan sekali-kali memiliki kepribadian yang lembut dan mudah iba.
  2. Kalau mental kita lemah, penakut dan mudah jantungan, bisa-bisa kita pingsan.
    Ibarat kita yang memiliki iman yang tipis, rohani akan rawan jebol jika dirasuki material fisik tak kasat mata, karena jin adalah makluk energi tak padat/beraturan, yang bisa merasuki dimensi paling halus manusia.
  3. Maka, sangat disarankan bagi pemirsa yang bermental tempe, pelihara saja welas asih dari sisi kemanusiaan tersebut untuk berderma kepada hal-hal yang bermanfaat.
  4. Jangan sekali-kali berkeinginan untuk memelihara rasa ingin tahu yang berlebih terhadap dimensi ghaib dan jin, karena resikonya juga tinggi.

Perempuan dari dimensi lain itu selalu mengikuti, kemanapun kami pergi kami.
Ditengah gelak tawa kami bertiga, bercengkrama terasa lengkap dengan sruputan kopi panas, ia masih saja mengawasi. Bahkan ketika saya buang hajat di kamar mandi, Kuntilanak tersebut menemani. Sampai-sampai, kambing ternak yang tepat berada di kandang, mengembek beberapa kali.

Sebagai catatan: › Beberapa jenis binatang tertentu, dibekali kepekaan ghaib yang relatif untuk mendeteksi keberadaan makhluk halus. Dalam merespon situasi yang tak terduga, gejala petunjuk awal yang menandai kemunculan makhluk halus biasanya terbaca melalui ekspresi si hewan, yang bersikap gusar dan bingung.

Saking mangkelnya, saya melemparkan gayung air ke depan pintu kamar mandi, sambil menggerutu:

Ya ampun, mbok muncul dong. Kek kenalan sekalian gapapa,. Kamu cewek kan..” gumam saya dalam Hati

Karena merasa yakin dengan dugaan tersebut, dengan mimik masam saking lucunya, saya memberanikan diri untuk langsung bertanya kepada Rosi, selaku pemilik rumah.

Kamu punya piaraan apa ros?” nyimpen cewek dalam kamar mandi, makanya sabunmu lekas habis ??.

Belum selesai keraguan saya terjawab, Ari (teman saya yang satunya. Yang kebetulan juga seorang indigo), malah memberi jawaban yang tak kalah heboh.

“Cie..cie yang baru kenalan dengan mbak Kunti” 😀

“Mbak Kunti” itu..:. Gaunnya putih dan agak kusam, rambutnya acak-acakan ( mungkin berketombe ), dan wajah kuntilanak asli itu putih pucat !!!!.

Begitulah pengakuan teman saya yang indigo, ketika menjelaskan detail ciri-ciri kuntilanak seram.
Sayangnya, ketika dimintai keterangan lebih lanjut apakah kuntilanak itu mengganggu, ia justru enggan berkomentar banyak..

Baca Juga :Gadis Kecil tak Kasat Mata

MELEKAN LARUT MALAM

Menyadari kami memang tidak sendirian kala itu, Paklek dan Bulek yang terpaksa berpamitan istirahat lebih dulu karena sudah mengantuk, tak mampu mengimbangi bugarnya kami sebagai anak muda, untuk kuat semalaman diajak bercerita.

Sialnya, teman saya yang bernama Arip, tak mampu bicara banyak lantaran kondisi perutnya yang terlanjur membuncit, akibat makan nasi goreng 2 bungkus yang terlanjur ia telan sebelum berangkat. Ditambah tak kuat menahan dinginnya angin malam, bergegas ia menarik sarungnya untuk tidur juga, sehingga demi menuntaskan topik obrolan kami semalam suntuk, iseng-iseng Kuntilanak tadi kami beri nama : Zaenab.

Kelemahan kuntilanak : › Sesama makluk Tuhan, harus bisa bersikap sama-sama baiknya. Perlakukan mereka dengan tidak semena-mena.

Nah, berhubung selama ini saya tidak memiliki konflik masalah dengan siapapun, termasuk dengan bangsa dedemit dan sejenisnya, tak pula punya motif sengaja untuk cari gara-gara, cara ajib yang saya lakukan hanya dengan memelihara kucing dirumah. Karena kucing bisa bikin kuntilanak geli dan kabur.
Entah ini mitos atau bukan, karena selama ini teman-teman banyak mengakui bahwasanya rumah saya juga wingit, hanya ketika saya tak berada di rumah. Namun bagi saya, hal itu sudah biasa. Toh gejala gangguan makhluk halus, juga jarang terjadi.

Nah, apabila diusir dengan cara biasa-pun masih susah, lantaran sudah sangat mengganggu, coba dengan menggunakan media berupa garam, rendaman daun kelor, atau air rendaman beras yang hendak dimasak. Cara ini terbukti efektif dipraktekkan ibuk saya menjelang maghrib, sejak bertahun-tahun.

Beberapa jam lamanya saya masih terjaga. Sangat disayangkan disaat momen momen itu terlewatkan, mau tidak mau, ditemani kawan saya yang masih tersisa 1 orang lagi bernama Ari, kami bertiga sepakat untuk menyelesaikan akhir pekan itu dengan melekan, bercandaan hingga pagi menjelang.

***

tempat tinggal hantu kuntilanak

Yang paling saya kagumi sebenarnya bukan penghuni alam ghaibnya, melainkan suasana pedesaan yang begitu hening.

Banyak hal yang hilang setelah 15 tahun berlalu. Ketika saya sudah dewasa dan berjumpa kembali dengan sahabat lama, sudah pasti momen serupa akan saya dapatkan kembali di tahun 2016 ini. Saya rindu suara jangkrik, gemeramang malam, dan tentunya, hembusan angin malam yang kata orang selalu bikin bulu kuduk berdiri, yang mungkin bisa jadi, hanya akan saya peroleh di rumahnya Rosi.

Dan sebentar kemudian…JEPREETT !!!. Saya memotretnya.
Hari bersejarah, dan ini merupakan aset dari potret sosial sederhana, yang mengingatkan betapa menunduk dan arifnya kehidupan Paklek dan Bulik dalam menjalani kehidupan masyarakat Jawa. Diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk merawat anak, berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sekaligus cara mereka memunajatkan doa, dengan cara menyatukan rohaninya dengan alam. Wajar jika ingin sekali saya abadikan.

Baca juga :Keadilan dan Rasa Sentosa yang Alam Terjemahkan

Bismillah… dengan mantap, saya mulai mengatur posisi kamera. Pertama yang saya snap adalah Sumur Tua dan kamar mandi itu. Tapi demi nama baik saya sendiri, rasanya nggak sopan kalau tidak izin. Sejenak kemudian saya persiapkan diri untuk berdoa.

Sungguh masih lebih enak hidup disini demi menghindari kebisingan kota !!.
Oh Tuhan, semoga engkau cukupkan usiaku agar suatu ketika, diriku bisa menjumpai hal seperti ini lagi

Selesai dengan rumah itu, saya akhirnya bersiap menggeser shoot kamera ke arah hamparan persawahan yg berada di belakang rumah. Oh iya, sayang sebagian pemandangannya terhalang oleh rerimbunan pohon bambu tadi.

tempat tinggal keberadaan kuntilanak merah

Dengan percaya diri saya mulai menikmatinya. Membuka batin untuk kenyamanan diri sendiri, saya merelakan harga diri saya. Saya memberanikan diri menyapa tetangga didekatnya walaupun bagi mereka, kami berempat sebenarnya adalah tamu asing.

Iya, saya tak membutuhkan ideologi dan rasionalis disini. Dan saya memang sangat tertolong karena imajinitas, unggah-ungguh ada manfaatnya pula bagi orang Jawa.

Itu belum selesai. Baru menghabiskan 1/2 hari satu malam disitu, saya bangkit dan menuju kamar mandi. Tak usah ditanya apa yang saya lakukan. Yang jelas satu. “Saya pergi mau pulang mbak, gak usah kepo-kepoin saya lagi ya..awas kalo berani dateng lewat mimpi, Tak Jambak Rambutmu!!”

Terima kasih Tuhan, hari ini saya bahagia untuk pertama kalinya selama lebih dari 20 tahun memiliki identitas Jawa. Paling tidak kalau ditanya orang apakah saya masih jawa Asli, saya akan mantap menjawab : “IYA”.

1 komentar untuk “Kuntilanak Jawa, Bagaimana Kabarmu Disana?”

  1. Ping-kembali: Kuburan: Dari Belum Pakai Sendal, Hingga Abad Milenial » Blogermie™

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!