HomePersonalMusikSebuah Lagu Salam Rindu : Untuk Band Wali

Sebuah Lagu Salam Rindu : Untuk Band Wali

Band wali - dan salam rindu
Wali dik

Ada harapan membuncah, saat mendengar lagu Band Wali dengan Judul “Salam Rindu” ini, di pelataran warung kopi Samsuri.

Sebagai seorang vokalis, Fang.. sepertinya sangat berkarakter membawakan sepenggal demi sepenggal liriknya.

Seolah “mantra” yang memiliki maksud yang tak pasti. Membius siapapun yang dengan tidak sengaja mendengarnya dari kejauhan.

Iramanya pelan, humanisme dan bertema kerohanian. (*setidaknya penilaian Saya secara subjektif) Menjadi ciri khas lagu milik Band Wali yang kebanyakan mudah untuk dihafal.

Kendati demikian, meski lagu-lagu Band Wali dikenal tidak umum, namun cukup menggungah nurani seseorang. Termasuk Saya.

Malam itu, band wali menggelar kembali konser sepanjang usia. Diputar melalui aplikasi mp3 di serambi warung kopi. Biarpun tidak secara live disaksikan, ada imaji yang membekas disela-sela suasana banjir di desa Sidodadi.

Secara realtime, entah siapa yang lebih dulu yg nge-play-repeat, tak ada satupun yang berani beranjak dari situ.

Peristiwa kebetulan, juga terjadi, dengan tidak biasanya.

Warkop Samsuri yang umum dikenal gaduh dengan irama musik dangdut, tiba-tiba menjadi hampa. Lebih melankolis dan terlihat manusiawi.

“Agak pegal setelah reparasi ponsel. Apalagi hampir seharian menikmati libur cuti seminggu. Kebanyakan separuh waktu dihabiskan hanya untuk itu”.

“Sore harinya baru tiba, karena sebuah kepentingan. Sekembalinya dari WTC-pun, laju berkendara, saya percepat. Menerobos padatnya lalu lintas Surabaya”.

Ditambah lagi permintaan pelanggan, agar proses ganti LCD hp-nya dipercepat adalah hal yang paling penting untuk dicermati”.

Entah benar-benar apes atau mungkin karna faktor “pikun” juga..sparepart LCD hp pesanan orang, beberapanya ada yang lupa terbeli”.


Mengingat kembali yang telah terlewati tadi pagi hingga sore ini…membuat mulut Saya bergumam.

Mengamini larik demi larik, tiap lirik yang Band Wali nyanyikan. Kaki, tangan, dan badan Saya-pun. Seringkali ikut bergerak ala kadarnya. Mengimbangi suasana hati yang beterbangan.

Membaca gamang lewat syair yang dinyanyikan, meski sayup-sayup terdengar adalah kenikmatan.

Bahkan, sekalipun lagu yang sedang dinyanyikan bernuansa galau dan menyayat, bahagia tetap Saya rasakan.


Band Wali – Pun Pergi

Akan tetapi, kebahagiaan dan kenikmatan Saya malam itu, sedikit terusik.

Sepanjang durasi mp3 yang terdengar lirih, tiba-tiba datang lelaki muda dari sekian muda-mudi di sebelah Saya. Lalu…berkatalah Ia kepada temannya:

“Kok lagune opik, sih?”.

Suaranya cukup jelas terdengar oleh Saya. Ingin rasanya saat itu menjawab langsung di depan telinganya, sambil mengumpat:

“Heh, Salam Rindu itu punya Wali, bukan Gombloh Opik, cuk!”.

Dan kepada teman Saya sendiri, Saya menaruh iba karena pendengaran rekannya tersebut, ternyata berkurang.


︾ BAGI JIKA INI BERMANFAAT ︾

Dan diharapkan Sharenya

apabila dirasa perlu 🙂
Name
Comment

error: Content is protected !!