HomeLiteraturMotivasi dan InspirasiJare Wong Mbiyen: “Gendeng” Itu Pilihan

Jare Wong Mbiyen: “Gendeng” Itu Pilihan

Hawa Sidoarjo perlahan berubah. Yang menjadi perantara musim pancarobah, dari panas menjadi dingin. Begitupun sebaliknya, gendeng-nya gejolak batin seseorang.

mengingat 5 jam yang lalu, guyuran hujan menyambut Desa ini. Dingin, makin menusuk disertai tiupan angin kencang.

Silih berganti intensitasnya, namun kesejukan yang ditimbulkan, ternyata mampu melarutkan kelelahan hati dan pikiran. Ditambah lagi salam rahayu sejahtera, dari Pakde.  Rosijan namanya.

Beliau banyak memberikan wedaran.  Tak hanya itu, Kopi panas,dan sebungkus rokok yang membuat sensasi relaksasi makin jadi pilihan.

Sementara Saya, hanya menjadi pendengar setia. Menghayati apa-apa yang beliau utarakan, keluh kesah, dan dukanya selama 1/2 dasawarsa menyelami hidup.

Tentunya, mendengarkan dengan seksama yang diucapkan beliau, sepertinya sangat melengkapi derita. 1 dari 2 orang yang terpekur kedinginan di Pos Ronda lantaran menunggu hujan reda.

Mendengarkan grundelan Pakde Rosijan di tempat itu, saya jadi ikut terbawa.

Saya setuju, di Usia kita saat ini, kita banyak kehilangan jati diri. Membaca Waktu Bergerak, Semua Bergerak di Kontemplasi.
Saya juga paham, Apa yang sebenarnya beliau maksudkan.

+++

Gendeng Karena Dampak Revaluasi Zaman

Ketika 1950-an, ketika beliau masih duduk di sekolah rakyat. Udara masih dapat dengan leluasa dihirup. Klenik masalah juga belum berdampak ke mayoritas manusia moderen seperti sekarang ini.

Masih segar dalam ingatan beliau, orang orang dulu (wong Mbiyen) begitu menunduk dengan peradaban. Masih mencintai Alam. Menggunakan Norma dan etika kesopanan sebagai tauladan.

Dulu, masih terdapat tempayan dan gentong-gentong berisi air yang selalu ada di tiap-tiap rumah penduduk. Letak fungsinya juga jelas, untuk minum bagi para tamu.

Baiknya juga, meskipun sempat mengalami paceklik pangan. Orang dulu, juga tidak terbesit melakukan tindakan buruk untuk mencampurinya dengan racun. Beliau Mencontohkan.


Di luar topik, beliau juga bercerita tentang Sebuah zaman.

Misalkan, kalau tidak bisa beli rumah di komplek perumahan, harus siap mendapatan kiriman gas buang kendaraan bermotor.

Dengar dari informasi teman beliau, kalau orang sudah terbiasa menghirup gas buang monoksida, maka kualitas hidupnya akan menurun drastis. Gampang marah, tertekan, dan menjadi pemicu tingkat depresi tinggi.

Kesadaran manusia-manusia semacam itu, bakal terganggu seperti yang tengah terjadi sekarang ini.

Wong Gendeng
Foto wong gendeng: Dokumentasi pribadi. Ilustrasi

Orang dulu tidak takut hidup melarat. Tidak kuatir jatuh miskin.

Apalagi hingga menjumpai makin banyaknya fenomena sahabat yang senyum-senyum orang gila secara mendadak, seperti sekarang ini.

Karena orang dulu, sudah manunggal. Dan yakin bahwa: Yang maha kuasa telah menjamin kualitas hidup bagi hamba-Nya yang betul-betul “Hidup” Jiwanya. Selagi mampu jujur dengan keadaan, menghormati keberadaan semesta.

Cobalah tengok kehidupanku nak,
Kemiskinan tak selalu meninggalkan kenangan buruk, asal kamu segan menggendeng-nggendengi pangeranmu (menggilai dalam arti mengagumi kepada *Yang Maha Kuasa)

dan Lagi, Alam tak pernah ingkar janji.

Maksud dalam menganalogikan “Gendeng” di Era sekarang ini. Tutur beliau.

3 komentar untuk “Jare Wong Mbiyen: “Gendeng” Itu Pilihan”

  1. Ping-kembali: Diam Kelemahan Adalah Pangkal Ilmu Yang Menguntungkan *Blogermie™

  2. Ping-kembali: Corona Dan Lempar Senyum Orang Gila » Blogermie™

  3. Ping-kembali: Wejangan Makrifat Eyang Semar: "Suatu Saat" Yang Hilang • Blogermie.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!