HomePersonalBiabdihi Warosulli : Hakekat Ajaran Hidup Tertinggi

Biabdihi Warosulli : Hakekat Ajaran Hidup Tertinggi

Biabdihi Warosulli : Hakekat Ajaran Hidup Tertinggi | Ini bukan tentang ” Siapa Yang terbaik “…Tapi, ” Siapa yang mampu untuk berbuat Baik “.

8 tahun dengan beberapa pertemuan yang tak terduga lalu diakhiri beberapa perpisahan yang mungkin disengaja. Selama itu pula, Saya memaknai kisahnya. Menjadikannya sebuah pelajaran untuk tetap dikenang agar tidak berujung menawar suratan Tuhan maupun menyesali takdir.

Menjalani hidup dengan memiliki Mursyid¹ [pembimbing] sekaligus sahabat dari kaum lansia, dari beragam aliran kepercayaan yang pernah saya jumpai, tentunya bukan faktor kesengajaan semata.

Bukan karena terperangah akan doktrin, berupa ilmu yang diwedarkan. Sehingga dengan mudah terjebak dialog dengan gaya berfikir mereka yang seringkali mengundang tanda tanya.

Penggunaan tata Bahasa filsafat yang mereka pakai untuk berkomunikasi demi menyampaikan sebuah kebenaran, sedikit demi sedikit mulai terungkap alasannya.

Biabdihi Warosulli: Setiap Insan Adalah Pengabdi. Melalui Perantara Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Tuntunan Beliaulah Yang Kita ikuti.

Begitupun juga segala sesuatu yang pada akhirnya membuat saya memahami. Dengan menganalogikan peristiwa-peristiwa ganjil di lingkungan sekitar, ternyata semuanya bisa diterjemahkan melalui ruhani sebagai bentuk potensi bawah sadar.

Melalui sedih, terharu dan duka, semua hal yang tercipta, telah berjalan sesuai kehendak-Nya.

Disini, Saya makin mempertebal keyakinan…

Kecenderungan peristiwa yang belum terjadi, dan peristiwa yang telah terjadi sekalipun, ternyata sudah lebih dulu ada di dalam dugaan-Nya. Semua hal sudah tertata dengan apik sesuai skenario tuhan. Kita tinggal mengikuti alurnya saja.

***

Saya belajar tentang ragam hal dari beberapa orang. Yang terdapat diantaranya adalah seseorang yang enggan dijuluki gelar sebagai seorang Tokoh. Tokoh ulama yang tidak terlalu berpotensi untuk dikenal, namun menurut saya, tokoh tersebut sangat priyayi. Beliau merupakan teman dekat satu kantor.

Sampai YMK menjemput dirinya di tahun 2016 kemarin, ia masih berpegang teguh dengan keyakinannya untuk melestarikan Tradisi lelaku.

Darimanapun sumber pengetahuan dan literatur itu berasal, tak pernah terbesit untuk mengusik, maupun mematahkan ideologi ketuhanan yang beliau anut.

Kami malah bersahabat dengan baik. Hingga akhirnya dia pergi lebih dulu menghadap YMK. Dengan meninggalkan Tradisi lama kejawen yang sekarang malah dianggap kontroversi oleh sebagian kalangan lantaran terdapat penyimpangan kaidah.

Jujur, Saya masih kurang sepakat apabila terdapat orang awam yang menghardik beliau seolah bertahan dengan pernyataan yang demikian. Entahlah

Saya juga tidak habis pikir, apa ini hikmah akan datangnya sebuah perkenalan untuk disyukuri atau tidak.

Semakin hari, semakin banyak saja misteri yang sulit untuk di ungkap. Seiring itu pula semakin menjurus bisikan-bisikan yang mengajak kemauan ini untuk belajar mencari jawabannya.


Semakin banyak teka-teki yang belum sanggup diterjemahkan menggunakan kecerdasan logika, malah di translate dengan sendirinya melalui perantara hati sebagai jawaban. Dengan mengkombinasikan pengetahuan dari yang disampaikan teman-teman saya tersebut. Semua alurnya masih tetap sama.

Dengan terlebih dahulu Izin kepada YMK, “me-restart ulang” lagi dengan upaya membenahi diri.  Mengkajinya melalui  Majelis dakwah berisi kisah-kisah dari utusan-Nya tersebut, nyaris sulit dijelaskan menggunakan Akal sehat.

***

Biabdihii Warosulli: Di Dunia Ini, Kita cuma sekedar “mampir minum”

“Her, Selagi giat dan beniat mencari jalan-Nya, jangan terlalu berlebihan tertawanya. ” Biabdihii Warosulli² “

Dulu, Saya sering menggumam sendiri akibat pernyataan tersebut terlampaui sering menggelayuti pikiran-pikiran saya yang masih kosong. Mungkin karena pembentukan karakter yang pringisan dan minimnya wawasan ber- spiritual.

Saya mencoba mengkaitkan-kaitkannya filsafat Biabdihi Warosulli dengan siklus kematian beberapa “mantan teman”. Mereka seperti seenaknya saja datang dan pergi.

Silih bergantinya mereka juga sesaaat. Terkadang ada yang cuma mampir sebentar, besoknya sudah berpamitan, hendak berangkat mati.

Maksudnya apa coba?

Bukankah tertawa itu merupakan ekspresi bahagia?

Kenapa tertawa berlebihan itu dipandang sebagai sesuatu yang kurang berkenan?

Dirasa memiliki pengetahuan yang cukup, pada suatu ketika di tahun 2014 lalu, Saya memberanikan diri. Memberanikan diri untuk mencari jawaban ambigu tersebut kepada Paman. Adik dari Almarhum Ibu Mertua saya.

Paman, Kapan terakhir kali Kanjeng Nabi Muhammad SAW tertawa akan hal yang dapat membuatnya Bahagia“?

Sejurus kemudian, paman menutup matanya lalu hening dan berdoa. Kembali membuka matanya beberapa detik dengan senyum yang tak selebar sebelum-sebelumnya.

Paman tak menjelaskan dengan rinci. Hanya meninggalkan sebuah riwayat yang menceritakan kunjungan Khalifah Umar bin Khattab menuju kediaman Rasulullah.

Di kediaman Rasulullah, apa yang dilihat Khalifah Umar terhadap Rasulullah ternyata di luar dugaan Khalifah itu sendiri.

Orang nomer satu, yang derajatnya diangkat oleh Allah SWT dengan tidak mengubah gelar Ulul Azmi, tertidur pulas hanya beralaskan Tikar. Berbahan dasar Daun kurma kering yang dianyam.

Menutup ketidak-tahuan para sahabat-sahabat di jaman itu jikalau Rasulnya tengah hidup miskin.

Khalifah Umar yang tertegun dengan menyimpan penasaran dan segenap rasa iba, secara tiba-tiba meneteskan air matanya. Menyaksikan sendiri punggung rasulullah terlanjur memar. Akibat gesekan daun kurma yang terkenal tajam durinya.

Tak hanya menyayat kulit Baginda Rasul, namun juga rasa peduli yang ditimbulkan, juga telah menyayat hati sang Khalifah Umar.

Rasulullah SAW yang saat itu tengah tertidur pulas, tidak merasa terkejut dengan kehadiran sahabatnya. 

Baginda Rasul yang ternyata lebih dulu tahu setiap pertanyaan yang hendak ditanyakan sahabatnya tersebut, beranjak dari posisinya berbaring. Sambil menjelaskan secara pelan-pelan, percakapan yang menjadi inti dari hakikat hidup.

“Wahai sahabatku Umar’, di Dunia ini memang bukan tempat untuk bermain-main dan bersenda gurau”.

Mengobati Capek akan Dunia, Tauhid Adalah Obatnya

Mendengar yang diceritakan Oleh Paman, Saya tak hanya terdiam.

Bagi saya pribadi, sulit untuk membantah sebuah kesaksian yang disajikan dunia ini hanyalah keindahan semu yang menyakitkan.

Sementara di luar sana, masih eksis terdengar beberapa orang yang bangga dengan apa yang mereka lahap demi eksistensi Instagram.

Tanpa di jelaskan dengan panjang lebar lagi, Biabdihi Warosulli dan Hakekat Ajaran Hidup Tertinggi¹ telah menempatkan diri. Semoga kita semua, bukan tergolong sebagai umat yang merugi.

1 komentar untuk “Biabdihi Warosulli : Hakekat Ajaran Hidup Tertinggi”

  1. Ping-kembali: Apa Hendak Dikata, Sabar Tak Bercela » Blogermie™

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!