HomeLifestyleMengantar Anak, Rutinitas demi Meraih Batas

Mengantar Anak, Rutinitas demi Meraih Batas

Sejak lama, mengantar anak ke sekolah, telah saya jadikan agenda penting kegiatan, begitu ada waktu tersedia. Semenjak Irma, anak perempuan saya duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak, saya makin intens menjadi sopir pribadinya. Bahkan, hingga duduk di bangku sekolah dasar di tahun ini, Saya makin menikmati rutinitas tersebut karena kelengkapan nilainya.

mengantar anak

Ada nilai obyektif berupa rasa puas karena dikarunia amanah berupa merawat titipan dari Sang Maha pencipta, ada pula nilai subyektif lantaran iseng iseng belaka… Misalnya.. ketemu beberapa teman lama yang di antaranya memang membuat saya berperilaku gokil jika memandangnya.

Ada yang karena kelucuannya, ada yang karena kecerdasannya, ada yang karena naluri keibuannya yang mengesankan saat menuntun putra-putri mereka.

Dari nilai yang disuguhkan, beberapanya mendapatkan klasifikasi nilai yang agak serius, terutama jika merujuk pada aspek pendidikan.

Nah, disini… Sebetulnya berat sekali mengantar dan menjemput anak itu setiap kali karena kerepotan teknisnya terus meninggi dari hari ke hari. Lalu lintas makin tambah padat saja ditengah himpitan area parkir yang makin berkurang fungsinya.
Setelah repot mengantar, lalu repot membiayai karena biaya sekolah juga makin meninggi.

Namun, seletih-letihnya mengantar dan membiayai kebutuhan penddidikan mereka, pasti jauh lebih repot lagi adalah anak-anak itu sendiri sebagai pihak yang harus terus menjalani. Tas mereka berat sekali, masa edukasi mereka banyak sekali dan jam sekolah mereka panjang sekali.

Ditambah lagi, kebijakan baru yang membuat hari-hari mereka lebih intens terlihat seperti orang dewasa yang sangat impulsif menyibukkan diri.

Ya..menyibukkan diri. Jam mata pelajaran yang panjang, di dalam tahun yang lama, ditengah masa masa bahagia sukacita menikmati kehidupan sebagai bocah, otomatis ketertekanan mereka juga makin bertambah.. jadi betapa lelahnya.

Apa jadinya jika sudah begini. Berlelah-lelah, bermahal-mahal dan berlama-lama, cuma keliru kurikulumnya.

Karenanya sambil mengamati anak-anak dengan tas punggung yang berat itu, pikiran saya membayangkan sekolah dengan rasa cemas dan rindu.

Rindu, bahwa hingga kini belum tergantikan. Tetapi apa jadinya, jika lembaga sepenitng ini, misalnya, harus menanggung setidaknya dua soal prinsipil. Pertama metodologi, kedua kejujuran.

Soal yang pertama itu saja sampai sekarang belum rampung diperdebatkan. Bagi para orang tua yg baru menjalani hidup berumah tangga, mudah saja mengujinya, apapun alasannya, sepanjang masih rendah produktivitas sebuah bangsa, bagi masa depan mereka. Dan ini yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi objek industri dengan pendidikan sebagai kamuflase?

Menyangkut soal metode, jika cuma soal kurikulum yang keliru, tidak perlu khawatir berlebihan, sepanjang semua itu menjadi latihan dari risiko sebuah pembelajaran.

Kekeliruan bagi sebuah upaya, merupakan batas yang lumrah, Namun jauh bedanya, dengan kekeliruan hasil dari sebuah ketidak jujuran.

Celakanya di Indonesia ini, ketidak jujuran itu bisa merambah ke mana-mana. Bahkan sampai ke pendidikan dan peribadatan. Karenanya, saya sempatkan berdoa: semoga sekolah, tempat anak-anak kita menggadaikan waktunya yang panjang itu, dijaga dari aneka perilaku yang tidak pada tempatnya.

Kami selalu sayang kamu nak. Berjuanglah selalu untuk menemukan titik puncak batasanmu.

2 komentar untuk “Mengantar Anak, Rutinitas demi Meraih Batas”

  1. Asik kan Mas antar anak ke sekolah?
    Cerita Mas ini mengingatkan saya ke tahun 1998. Yang biasanya rutinitas harian saya berangkat kerja pagi, pulang malam. Berangkat anak2 masih tidur, pulang sampai rumah anak2 sudah tidur.
    Ketika akhirnya saya di PHK karena krismon saat itu, jadilah rutinitas harian saya antar dan jemput sekolah kedua anak saya. Tapi kini mengingat satu tahun antar jemput itu sebagai kenangan yang teramat indah.

    Salam dari Sukabumi, Mas.

    1. iya pakde..waktu selalu akan mengobati. Kalau di runut kembali..seperti ada kesan dan kisah yang sulit ditinggal. Eh tau tau memang beginilaih hidup kalau mau dipahami. Salam santun ugi pakde 🙂

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!