HomeMotivasi dan InspirasiMenjadi Diri Sendiri Seutuhnya…Yang Seperti Apa ?

Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya…Yang Seperti Apa ?

menjadi diri sendiri

Sebagai manusia, kita ditakdirkan memiliki prinsip yang berbeda. Melalui kalimat sahih, banyak orang bijak menyebutnya dengan istilah: “menjadi diri sendiri”.

Keistimewaan yang menjadi kemantapan lahiriyah dalam diri tersebut, ternyata diolah melalui terapan perilaku orang lain, lantas dikembangkan sendiri secara personal.

Masalahnya, dalam proses lanjutan demi pengembangan inilah. Yang kadang membuat kita risau, tiba-tiba stuck ditengah jalan. sehingga prinsip pribadi yang tadinya digadang-gadang menjadi hak paten, tergoyahkan. Akibat pengaruh keadaan.

MENJADI DIRI SENDIRI ADALAH: Mau sadar diri. Ketika baik menurut kita, belum tentu baik bagi kehidupan orang lain.

Terkadang, Saya sendiri mengalami ketegangan tersebut, lantaran dipicu hal-hal sepele.
Hanya karena obsesi, kepo dan rasa “Ingin itu” berlebih. Kendati yang terjadi, justru membuat saya gampang tersesat, terperangah, dan pada akhirnya lengah mengabaikan tujuan awal. Meski keadaan itu tak pernah berlangsung lama, istri saya menganggap hal tersebut adalah suatu penyimpangan.

Lumrahnya orang lupa, bagi siapapun yang berpasangan, tentunya menjadi satu himbauan keras. Doktrin tegas agar gejala lupa itu tidak berjangkit kronis dan bercabang menjadi penyakit lupa-lupa yang lain.

Nah, perlu diketahui juga nih pembaca. Di antara banyak jenis lupa, selain lupa ingatan, lupa istri dan lupa anak, Lupa diri adalah spesies yang paling berbahaya. Yang sulit diobati tanpa disertai kemauan untuk lekas insyaf. Karena kejadian seburuk apapun, tetap memiliki standart ilmu yang berbeda-beda, tergantung daya serap kita dalam memahami suatu wacana.


Pernah suatu ketika saya pergi ke Toko Buku di Jalan Semarang-Surabaya. Diawal keberangkatan, saya sudah yakin betul untuk memilih Buku bergenre A sebagai destinasi utama. Tetapi, begitu sampai disana, setelah buku tersebut sudah saya dapat, saya malah meninjau buku lain yang sebenarnya bukan menjadi target.
Sepulangnya dirumah, saya merasa kecewa dan hanya terdiam tanpa kata:

“kenapa aku tadi beli buku ini ya. Aneh!!”

Baca juga :#Diam, Kelemahan sebagai pangkal Ilmu yang menguntungkan

MENJADI DIRI SENDIRI BAGI MEREKA YANG TELAH BERKELUARGA

Begitu juga saat sudah menikah. Ujian yang terberat dalam hidup seperti berkeluarga adalah ketika telah mencapai sudut pandang: “cukup bahagia” di mata sosial.

Disaat ekspresi bahagia sekecil apapun, sedang menghampiri, biasanya seseorang akan mudah lengah jika tidak mampu memecahkan permasalahan yang mendadak datang.

Begitu tahu masalah sepele itu dibiarkan. Berlarut-larut tanpa pemecahan dan menggunung, seiring itu pula volumenya kian membesar hingga menimbulkan bencana yang terlambat untuk disadari. Disitu, timbulah depresi, mencerca diri sendiri dengan beragam pertanyaan menyesal:

“Kenapa Aku lupa”?
“Aku kemana Saja sih selama ini”
“Duh Gusti, Ampunilah Aku ini” ,
…dst

Beruntung, gejolak menjadi diri sendiri ternyata tidak dialami 1 orang saja. Dari percakapan dialegtis yang pernah saya jumpai dari hasil korespondensi kawan-kawan, nyatanya banyak mengalirkan ilmu psikologi terapan.

Hikmah ketika ngobrol dengan teman yang tengah dilanda problema hidup, juga menjadi pantulan kebaikan. Yang mencerminkan jawaban: menjadi diri sendiri yang versi apa, atas karakteristik lawan bicara.


MENJADI DIRI SENDIRI MELALUI NASIHAT SAHABAT

Satu minggu yang lalu, sempat saya ngobrol dengan seorang teman lama. Ya’… bisa dibilang kehidupannya sekarang terbilang makmur sebagai pedagang. Setelah memutuskan mengundurkan diri sebagai karyawan pabrik, dia sempat mengalami fase panik dalam mengambil keputusan. Antara: Ya atau Tidak.

Semua nampak datang begitu cepat, dari yang dia perkirakan. Karirnya setelah 3 tahun menjadi seorang karyawan Pabrik, sirna. Karena di jenjang waktu itu, dia sudah punya perencanaan yang matang, ingin ini, membeli itu.

Di tengah musibah yang bersamaan, tengah menimpa ibunya yang mendadak sakit keras. Mengharuskan teman saya tersebut, harus bisa fokus merawat ibunya di kampung halaman. Nganjuk – Jawa Timur

Beruntung, semua sudah dipersiapkan dari hasil jerih payahnya memecah celengan dalam waktu 5 tahun menabung. Bermodal angan-angan, ia mencoba berbisnis sendiri berdagang sayur di kampung. Bermodalkan uang pesangon yang hari itu juga ia pakai untuk membeli 1 unit mobil Pickup dan mengurus sim A.

Di tahun selanjutnya, krisis keuntungannya juga tidak dapat dikatakan wah, mengingat dia masih pemula. Persaingan antar pedagang membuat ada saja kerugian yang ditimbulkan. Sesama penjual, masih saja saling lempar penglaris, dan itu masih kerap terjadi.

Namun setelah berjalan seiring waktu, usahanya kini terbilang mulus untuk pemuda seumuran. Omset yang awalnya hanya berada di angka ratusan ribu perhari, kini berkembang menjadi jutaan. Bahkan dia telah memiliki sebidang tanah yang hendak ia investasikan sebagai properti memperluas usahanya. Ya’…kini dia telah menjadi agen sayur dan buah. Dengan skala penjualan yang lebih besar.

Saat mampu mengatakan IYA, demi mengakhiri zona nyaman atas himpitan hidup yang tengah dijalani

Bisa dibayangkan, hanya dengan angan-angan, tanpa bermodal nekat, mana mungkin hal itu akan terjadi dengan sendirinya. Ia sendiri mengkolaborasi prinsip yang telah ada dengan penuh pertimbangan.

Setelah melihat tantangan masa depan yang masih misteri, ia menyingkirkan sebagian perencanaan lama. Lalu mengembangkannya dengan tantangan yang tak diduga-duga, lantaran keadaan. Dengan ini, tersampaikan nasehat juga. Jika Tuhan telah menyiapkan persoalan, bukan untuk disesali. Niscaya ada jawaban yang perlu dikaji sebagai metode pembenahan diri.


KESIMPULAN

Yang unik hingga tulisan ini terbit, 2 jam saya ngobrol di serambi warung kopi. Terselip pesan yang menurut saya amat heroik dari dia:

“Yang penting Everlasting aja Her.

Masalah populer itu gampang, karena populer itu sifatnya konstan dan instan. Jangan tergiur dengan panggung sandiwara yang besar. Biarpun Mewahnya Gono-gini.

Sesuatu yang baru itu, tidak akan mengubah tujuan awalnya seperti apa. Dan hal unik yang sanggup menginspirasi banyak orang itulah, yang baru bisa dikatakan keren…

Dari saran teman saya inilah, sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa:

Menjadi diri sendiri adalah syarat utama. Melihat sesuatu yang nampak menggiurkan, itu boleh saja, asal tahu tempat dan tahu kapasitas.
Jika terdapat kelebihan yang mengandung manfaat, dalam konteks jangka panjang, ambil segera. Jangan suka menunda-nunda.

Untuk menjadi diri sendiri, belajarlah mengkaji dirimu sendiri dari sudut pandang yang humanis dan nyaman. Celaan dan hujatan sudah pasti ada, Lha wong namanya hidup. Sehingga tak perlu risau dengan cibiran orang, asal dirimu memperlakukan orang lain, sama-sama baiknya.

Kebahagiaan sesaat dan obsesi semu, membuat jiwa siapapun terdidik bermental takabur. Kita diserang sikap kurang mawas diri terhadap keadaan yang menggiurkan. Hingga pada saat nanti tertimpa kesedihan yang menyudutkan. Mengenal diri sendiri saja susah… kita baru sadar siapa diri kita sebenarnya setelah terlanjur sering berkeluh kesah.

Menjadi diri sendiri seutuhnya menurut tulisan diatas, adalah versi saya…
Nah kalau kalau anda, menjadi diri sendiri yang seperti apa?

︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!