Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya…Yang Seperti Apa ?

MENJADI DIRI SENDIRI BAGI MEREKA YANG TELAH BERKELUARGA

Begitu juga saat sudah menikah. Ujian yang terberat dalam hidup seperti berkeluarga adalah ketika telah mencapai sudut pandang: “cukup bahagia” di mata sosial.

Disaat ekspresi bahagia sekecil apapun, sedang menghampiri, biasanya seseorang akan mudah lengah jika tidak mampu memecahkan permasalahan yang mendadak datang.

Begitu tahu masalah sepele itu dibiarkan. Berlarut-larut tanpa pemecahan dan menggunung, seiring itu pula volumenya kian membesar hingga menimbulkan bencana yang terlambat untuk disadari. Disitu, timbulah depresi, mencerca diri sendiri dengan beragam pertanyaan menyesal:

“Kenapa Aku lupa”?
“Aku kemana Saja sih selama ini”
“Duh Gusti, Ampunilah Aku ini” ,
…dst

Beruntung, gejolak menjadi diri sendiri ternyata tidak dialami 1 orang saja. Dari percakapan dialegtis yang pernah saya jumpai dari hasil korespondensi kawan-kawan, nyatanya banyak mengalirkan ilmu psikologi terapan.

Hikmah ketika ngobrol dengan teman yang tengah dilanda problema hidup, juga menjadi pantulan kebaikan. Yang mencerminkan jawaban: menjadi diri sendiri yang versi apa, atas karakteristik lawan bicara.

3 komentar untuk “Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya…Yang Seperti Apa ?”

  1. Ping-kembali: 5 Cara Bersosmed Yang Benar Menurut Islam » Blogermie™

  2. Ping-kembali: Menunggu Memang Membosankan, Mediasinya Yang Justru Bikin Nyaman » Blogermie™

  3. Ping-kembali: Menulis Bukan Untuk Reward #Tips » Blogermie™

Komentar ditutup.

error: Content is protected !!