HomeLiteraturBahagia Dunia Akhirat & 8 Tips Mencapainya Tanpa Banyak Drama

Bahagia Dunia Akhirat & 8 Tips Mencapainya Tanpa Banyak Drama

Bahagia dunia akhirat
Sumber Foto : Stocknap

Mendengar sinetron, pasti publik dibuat bergidik dengan drama garapan indonesia. Selalu ada saja perselisihan dalam sebuah ikatan, demi tercapainya sinopsis cerita, apalagi jika bertema tayangan religi: bahagia dunia akhirat.

Faktanya, imajinasi perkara, mulai dari intrik, gairah gaya hidup, hingga skandalisme yang bertentangan, justru dijadikan lelucon sindiran bagi warganet. Lantaran jalan cerita yang dipaparkan seakan “terengah-engah” dan terlalu mengada-ngada.

Kabar baiknya, meskipun tinjauan itu terlalu skeptis, dilema pertengkaran berujung bahagia, sangat menarik untuk diresapi sebagai bahan kajian peneguhan diri akan pentingnya moralitas.

Dan… saking naifnya penikmat sinetron yang paling tahu diri untuk merenung dan berkaca, wanita yang tak luput dari sasarannya. Termasuk istri saya juga ikut-ikutan menjadi korban drama. 🙂


Tapi ya, mau bagaimana lagi. Semakin saya mengingkari, sanad ilmunya tetap saya peroleh. Hmm..nampaknya tayangan sinetron, tak selamanya mendidik pencitraan buruk bagi pecinta drama. Disitulah saya makin mengerti bagaimana rasanya menjadi manusia seutuhnya.

Meskipun dalam pelaksanaannya akan sulit direalisasikan secara nyata ketimbang makna teoritisnya, semoga memberi banyak harapan bahwa menggapai hidup dunia akhirat itu tidaklah rumit dan tidak sistimatis seperti naskah cerita dalam sebuah drama. Semua ada prosesnya.

Berikut tips menjadikan hidup bahagia dunia dan akhirat, yang mungkin bisa diterapkan dalam hidup berumah tangga. Dan ini adalah murni yang saya lakukan disela-sela kesibukan online dan berbagi waktu dengan keluarga.

1. Bahagia dunia akhirat dengan menghindari cemburu

Cemburu, adalah ketakutan umum dalam berpasangan. Karena sejatinya cemburu adalah tanda kasih dari lawan jenis.

Tapi dibalik itu semua, rasa cemburu yang berlebihan, disertai perasaan takut dan khawatir merupakan awal tumbuh kembangnya ras mematikan, yang lebih berbahaya dari wabah virus corona. Jiwa labil penuh alasan, dan prasangka tak berujung.

Ada petuah kuno yang mengatakan bahwa:

“Semakin kita khawatir dan cemas yang dilandasi dengan prasangka buruk, kenyataan yang terjadi, tengah menghampiri”

Walaupun ini bukan mutlak, tetapi ada benarnya jika percaya hal tersebut. Sebagian besar hal-hal yang kita khawatirkan atau takutkan dalam hati, adalah doa yang terdengar lirih. Jadi hati-hati jika memiliki sangkaan yang bukan pada tempatnya.

Jangankan yang sudah berpasangan sejak lama, yang sudah di bentengi dengan iman-pun kalau sudah terhimpit keadaan, masih kalah dengan “kesempatan” . Sekali lagi, bukan pada orangnya, tapi pada momen-momen terjebak itulah, prahara rumah tangga biasanya bermula.

2. Tidak menyimpan dendam

Dendam adalah hal terberat jika kita menyimpannya di dalam hati. Terutama bagi wanita nih ( maaf ).

Birpun tak mutlak dijadikan patokan, mereka cenderung mengingat perkataan yang menyakitkan. Sengaja maupun tidak. Misal: ketika nama ibu muda yang depresi, tak keluar di daftar kocokan arisan. Yang pada akhirnya berujung pada kebencian dan dengki terhadap sesama. Maukah anda membawanya sepanjang hidup..? saya yakin tidak. 🙂

3. Fokus pada satu perkara

Jika kita memiliki beberapa masalah, selesaikanlah masalah kita satu per-satu. Terlebih bagi pasangan baru, yang memiliki kecenderungan berfikir abu-abu dan terburu-buru dalam menyikapi suatu keadaan.

Perlu di ingat, pada skala ikatan pernikahan, problema akan lebih komplek lagi ketimbang saat menyandang status pacaran. Disini, kita dituntut untuk saling berkoordinasi dengan pasangan. Sebijak menyelesaikan masalah secara gotong royong adalah dengan berkomunikasi. Maka, jika ingin kebahagiaan mutlak didapatkan, baik-baiklah memelihara hubungan yang harmonis dengan tidak terjebak untuk saling menyalahkan.

Karena itu, mulailah menyelesaikan masalah yang dianggap sederhana dahulu. Karena biang persoalan ialah menimbun masalah kecil, tanpa merumuskan penyelesaiannya, Dibiarkan berlarut dan akhirnya menggunung. Begitu tahu komunikasinya sedang cacat perasaan, menjadi selisih pendapat, berujung pada perceraian. Biar kata polemik itu dimulai oleh para suami temprament, atau juga istri pemarah

Baca juga : Istri pemarah, cara jinakkan sifatnya tanpa harus ke KUA

4. Jangan membawa tidur masalah anda

Menggunakan kesempatan rebahan, dikala bersantai dan berbincang, memang ada baiknya. Tanpa membawa perkara untuk terus menerus diungkit-ungkit tanpa akhir yang jelas. Semakin di-ingat, hanya akan membuat pikiran anda terbebani dengan tugas yang bukan pada tempatnya. Masalah adalah penyakit bagi kesehatan. Sementara kegelisahan, hanya akan membuat alam sadar terpengaruh, sehingga tidur-pun malah jadi kurang nyenyak.

Disamping itu, merupakan hal kurang santun apabila terjadi selisih paham di waktu hendak istirahat, hubungan bilateral dan visual sebagaimana pasangan yang saling menafkahi kebutuhan dohir, agak terganggu. Karena posisi tidur yang salah, saling membelakangi punggung. Saling berpaling muka karena banyak masalah.

5. Tidak merampas standart bahagia dunia akhirat orang lain secara gelap mata

Dicontohkan dalam telesinema Indosiar, berjudul : √ Azab seorang pelakor – Jenazah tertimbun cor, makam tertimpa meteor. 🙂

Membantu orang lain yang didera masalah finansial adalah hal yang mulia, tetapi jika kita mengambil porsi terbesar untuk menyelesaikan masalah orang lain dengan motif terselubung ingin profit memiliki harta kekayaan dan malah terjebak skandal lawan jenis, justru itulah kesalahan terbesar. Harta, tahta, waria, yang membuat orang, begitu mudah terjebak cinta pura-pura.

Baca Juga : Cinta pura-pura, Resensi novel marriage lost scandalous

Biarkanlah orang tersebut yang menyelesaikan masalahnya sendiri sesuai kapasitasnya. Kalau turut campur, bisa-bisa menjadi pedang bermata dua yang bisa menghancurkan rumah tangga, maupun bahagia dunia akhirat kita sendiri

6. Jangan hidup di bayang-bayang masa Lalu

Mungkin terasa nyaman bagi kita mengingat hal-hal yang indah di masa lalu, apalagi mengingat mantan. :D…tetapi ingatlah, anda tidak sedang berada di lokasi syuting drama korea.
Jangan anda terlena didalamnya.
Konsentrasilah dengan apa yang terjadi saat ini, karena hal buruk bisa datang silih berganti.

Saya yakin, kita akan mempunyai perasaan yang jauh lebih berbahagia jika mensyukuri apa yang telah ada hari ini, ketimbang mengingat keluh kesah di masa lalu. Ambil sedikit saja kebobrokan di masa itu, sebagai batu loncatan ke arah yang lebih baik dan fokus kedepan.

7. Bahagia dunia akhirat melalui upaya mendengar

Mungkin sebagian besar orang termasuk saya, susah untuk menerima pendapat dari orang lain. Sebaliknya, kita mengharapkan orang lain segan mendengarkan omongan kita, terkait prinsip dan gengsi. Dan yang menggembirakan, ada sebuah ungkapan yang menyatakan: golongan orang yang bahagia di dunia tapi celaka di akhirat, adalah mereka yang tak mau mengalah, meskipun tahu dirinya berada pada posisi tersudutkan.

Namun ketahuilah jika: barang siapa dengan menjadi pendengar yang baik, posisi yang diam itu, menjadikannya berada di situasi yang menguntungkan. Justru akan mendapatkan limpahan nasihat tberguna, secara cuma-cuma.

Baca juga : Diam, kelemahan sebagai pangkal ilmu yang menguntungkan

Kita akan jauh merasa terpelajar dan terdidik bermental “betah malu“, lantaran pernah terjerumus masalah yang sama, namun berhasil bangkit. Dengan demikian, kita juga lebih percaya diri demi meraih pencapaian masa depan, yang sangat berguna bagi kebahagiaan hidup kita sendiri.

8. Bersyukurlah selalu

Point terakhir adalah point terpenting dalam hidup.

Kita tidak tahu seberapa besar kekayaan allah yang diberikan kepada kita, karena rizki kita sudah terbagi secara tersendiri.Apalah arti uang banyak, mobil mewah,dan rumah mewah, tetapi kita enggan bersyukur.

Baca Juga : Wasiat bijak paman gober: Nol rupiah lebih baik dari minus

Sifat yang enggan bersyukur hanya akan mendidik kita menjadi jiwa yang takabur. Bersyukur dan berterima-kasih-lah atas semua yang kita dapatkan. Bukan hanya atas dasar nilai positif saja, tetapi juga hal yang negatif, karena saya percaya dibalik setiap hal yang negatif, ada hal baik yang bisa kita pelajari.

Semua tafsir, tidak pernah menyebutkan hal yang tercipta di dunia ini memiliki pencitraan buruk. Semua saling mengingatkan. Sehingga, jangan biarkan frustasi membuat rasa bersyukur kita berkurang.


Semua tidaklah sempurna. Di dunia ini masih banyak hal yang kita tidak tahu, kemana arah pesan moril yang berguna, toh hanya melalui tayangan sinema elektronik. Maka selagi hidup, manfaatkanlah hal positif di atas, untuk membahagiakan pasangan kita. Baik didunia, maupun di akhirat mendatang.

Ibarat roda yang selalu diputar, kita manusia hanya bisa memilih dan berencana, tetapi belum tentu hal yang menjadi perencanaan dapat tercapai sesuai keinginan. Lebih dan kurangnya, saya sendiri juga masih perlu belajar banyak dari orang tua, “sepuh” dan “pinisepuh” yang memberikan kelonggaran berpikir jernih secara orientasi.

Akhirnya, itulah sebagian tips menjadikan hidup anda bahagia dunia dan akhirat yang telah saya himpun berdasarkan pengalaman pribadi…dan hasil korespondesi dengan istri setelah sekian tahun lamanya menonton televisi. Maka dengan ini, sudi-lah kiranya saya haturkan kalimat santun “kulonuwon” kepada anda semua, sebagai penutup tulisan ini.

Siapa sih orang di dunia ini yang tak ingin hidupnya bahagia dunia akhirat seperti di telesinema?

Semoga anda bukan salah satu korban drama. Seperti saya dan istri saya.


︾ BAGI JIKA INI BERMANFAAT ︾

Dan diharapkan Sharenya

apabila dirasa perlu 🙂
Name
Comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!