HomePersonalMusikCafe Live Music Surabaya – 5 Kafe Mewah Musisi Ibukota

Cafe Live Music Surabaya – 5 Kafe Mewah Musisi Ibukota

Bukan hal baru jika cafe live music surabaya merupakan cara pendekatan paling alami bagi musisi dengan para penggemar. Untuk saling kenal, Live music, tak saja mengundang decak kagum para penikmat seni karena terjalinnya interaksi. Namun juga mengubah persepsi buruk: “Asal ada lagunya, gak penting untuk tahu menahu siapa penyanyi dan penggubahnya.


LIVE MUSIC : SAFE & CARE


Agak pegal setelah kerja shift malam hari ini. Apalagi Sidoarjo, diguyur hujan lebat hampir seminggu. Kecenderungan berangkat kerja lebih awal dengan tidak terburu-buru, dan mengakhiri kepulangannya tanpa ragu-ragu, menjadi alasan bagi saya.

Alasan teduh yang membuat saya lebih menghayati dan mengamati lirik, ketimbang irama sebuah lagu.
Arti lirik-lirik live music secara broadcast dari lagu-lagu favorit, yang rutin saya dengar berulang-ulang, melalui headset.

Seperti yang terjadi hari ini. Dalam kesendirian, entah kenapa juga, langkah kaki tergerak menuju gerai Indomaret, demi membeli sebungkus rokok. Namun tiba-tiba, suasana tak biasa, tengah terjadi disana.
Hanya karena melihat cover CD WALI tergeletak sebagai barang pajangan, Band wali jadi tidak terlihat keren. Mendapat perlakuan tak wajar dan kurang menyenangkan.

Tapi sekalipun, kecintaan saya terhadap band ini, tidak pudar. Walaupun lagu wali terdengar melankolis, humanistis dan cengeng,, kenikmatan tetap saya dapatkan. Karena lirik-lirik dan chord gitarnya, terbukti mampu mengusir kegalauan.


Agak kecewa, melihat fenomena itu, membuat saya berfikir abu-abu.
Kepanikan industri musik tanah air, malah menimbulkan penyakit baru.
Intinya, jangan sampai para pelaku industri menyalahkan wewenang para penggubah lagu/musisi. Karena Musisi manapun, pasti enggan disamakan derajatnya dengan produk massal yang dijual di sembarang tempat.


Setibanya dirumah. Saya mengingat kembali yang terlewati tadi pagi. Akibat hujan yang terlalu cepat datang, membuat jemari saya gatal untuk menggenjreng gitar.

Diam-diam, ada hal lain yang membuat mulut saya ikut menggumam sambil berfikiran : . “Ternyata pergeseran inovasi produk musik, membuat karya seni itu bertumbuh, namun tak lagi bermutu. Sehingga menciderai kultur musik itu sendiri”.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!