HomePersonalCorona Dan Lemparan Senyum Orang Gila

Corona Dan Lemparan Senyum Orang Gila

“Saya sendiri yang masih merasa waras saja, jarang tersenyum sebanyak itu. Baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Senyum Saya-pun, jelas bukan tandingan senyum orang gila seperti dirinya. Dia selalu sumringah. sementara Saya, bisanya mengeluh saja.”

Beberapa hari belakangan, Indonesia tengah berperang melawan wabah parasit. Epidemi corona.

Publik digegerkan dengan banyaknya pemberitaan terkait virus ini, yang diduga, telah banyak menelan korban jiwa.

Hingga tulisan ini terbit, Saya enggan mengomentari dan mencari info. Berapa jumlah korban corona di Indonesia yang berhasil teridentifikasi.

Selain riskan dilema, hal demikian bukan porsi Saya.

Kecenderungan terlalu sering mengkonsumsi berita corona, justru membuat Saya tidak ganteng produktif dan introvent…seperti biasanya. Itu kata Istri Saya. Preet!

Sejauh pemberitaan informasi dari televisi tadi pagi. Di beberapa propinsi, bahkan ada yang tidak menunjukkan gejala demam tinggi sebagaimana umumnya flu biasa.

Sulitnya untuk mengetahui gejala corona yang ditimbulkan, membuat beberapa teman dan masyarakat, menjadi sensitif dan diskriminatif. Saling menaruh curiga. Bahkan menyepelekan apapun bentuk himbauan pemerintah. Terkait pencegahan, demi penanggulangan penyebaran. .

Jangankan terhadap rekan sendiri. Terhadap orang yang lebih tua saja, ada yang mulai berpaling dan apatis. Seolah-olah mereka mampu menanggung kematian, seorang diri.

Tapi..ya itu tadi.

Walaupun fenomena corona yang terjadi, menimbulkan dampak interverensi berlebih. Bagi Saya, ada hal menarik tentang dampak psikologi sesama, yang sejauh ini, sebagiannya telah terbaca menjadi kajian.


Hikmah Senyum Orang Gila

Tiap kali sepulang ngantor, Saya suka melewati jalan itu.

Salah satu daya tarik dari seperjalanan ketika melewati jalan itu adalah: karena di situ, mangkal orang gila yang selalu tersenyum.


1. Senyum Orang Gila, Tak dibuat-buat

Kesan pertama yang hadir, betapa senyum orang gila itu tak dibuat-buat, selalu memberi kesejukan bagi yang melintas.

Tak peduli apakah nanti yang melintas adalah objek tak dianggap sama sekali. Entah hama, bencana, wabah-pun.

Bahkan andaikata yang menghampiri dia adalah seorang pejabat-pun, sepertinya bukan suatu ancaman luar biasa bagi dia.

Tak tahu lagi bila yang menghampiri dia adalah Satpol-pp.


2. Mencerahkan Wajah Pelakunya.

Kedua. Betapa senyum selalu mencerahkan wajah pelakunya. Meskipun orang itu jelas-jelas telah divonis sebagai gila, tetapi karena selalu tersenyum, ada gambaran damai di wajahnya.


3. Wong Gendeng Itu Pilihan. “Bebas Dari Aturan Yang Mengikat”

Ketiga. inilah yang menurut Saya bahagia.

Saya sendiri yang masih merasa waras, jarang tersenyum sebanyak itu. Baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Senyum Saya-pun, jelas bukan tandingan senyum orang gila seperti dirinya.

Memang, kentalnya raut wajah Saya yang dikata teman-teman, dikenal jenaka, sering dinilai akumulatif. Karena saya memang orangnya suka bercanda. Tetapi itu pun jumlahnya tak seberapa. Pret!

Yang tak seberapa-pun, itu berisi senyum-senyum yang terpaksa. Terpaksa sok sabar, sok baik dan sok ramah.

Tak hanya terjadi pada diri Saya saja. Mungkin, seadaan sok ini jugalah yang menghampiri orang lain. Menyiksa secara diam-diam, batin siapapun, malah dihantam prahara.

Bibir tersenyum, tetapi hati seseorang, akan sulit ditebak. Melayang entah ke mana-pun, tak tahu…saking terancamnya. Maka, senyum itu, sejatinya nyaris lahir dari ruang hampa.

Jadi, senyum kuantitatif, cepat sekali berpaling dari wajah seseorang yang normal. Secepat itu datangnya, secepat itu pula perginya tanpa meninggalkan jejak apa-apa.

Amat berbeda dari senyum orang gila yang kebanyakan waktu, senantiasa menetap di bibirnya.

Atau setiap hari, andaikata dikabarkan 1 saja orang meninggal karena corona.

Sebuah kematian yang pasti, tidak membanggakan bagi keluarga yang ditinggalkan. Karena jenazahnya, hampir tidak mendapatkan perlakuan tak menyenangkan ketika dikebumikan.

Dibungkus plastik dan ditimbun tanah kuburan, tanpa ada satupun sanak famili yang berani mendekat, maupun mendoakan. Ya Allah.

Dan intensitas ketegangan di wajah siapapun, bisa meningkat stresnya jika mau menonton televisi. Semua acara lengkap di dalamnya/

Mulai dari yang mengundang kejengkelan, hingga kemarahan. Mengernyitkan dahi-pun, pantas dilakukan.

Jika senyum kuantitatif saja tak seberapa, lebih langka lagi jika membandingkan jumlah senyum kualitatif di wajah seseorang yang dilanda ketakutan dan musibah.

Nah, bagaimana dengan Anda di situasi darurat corona…masih bisakah ter-senyum orang gila?.

Mari berdoa untuk keselamatan negeri ini. Amiin

error: Content is protected !!