HomeLiteraturSpiritualCorona: Sakit Tak Ditakuti, Efek Dibenci, Filsafatnya Dipuji.

Corona: Sakit Tak Ditakuti, Efek Dibenci, Filsafatnya Dipuji.

Bohong kalau Saya tidak sedih apabila membaca pemberitaan corona di ruang publik. Namun, bohong juga, jika Saya tidak tegang menghadapinya. Tidak cuma tegang, tetapi juga terdapat rasa takut. Bukan pada penyakitnya, melainkan pada realita sosial yang ditimbulkan.

Untuk soal kesedihan bersifat pribadi, jelas alasannya. Demikian fenomena corona membuat perasaan Saya mendadak kenes. Teriris-iris, sakit, dan gemetar.

Apalagi jika melihat tayangan Youtube. Dimana wajah anak kecil memelas, jauh dari sanak famili. Lantaran ibunya seorang perawat di sebuah Rumah Sakit China, yang harus siap siaga memberikan pertolongan kepada sesama pasien corona. Rasa-rasanya, tikungan hidup untuk anak se-kecil itu, bukan saatnya.

Namun, mau secengeng apapun ditanggapi, begitulah adanya. Setiap orang, PASTI akan mengalami posisi terhimpit keadaan yang demikian.

Dalam pandangan Saya pribadi, virus corona adalah tajuk jawaban, atas kelaparan rohani.

Didatangkannya sebuah peristiwa, pasti memiliki makna dan filsafat yang spesifik. Spesifiknya seperti apa, tergantung kepekaan dan cara manusianya menangkap sebuah kebenaran secara visual. Dalam tanda kutip: Kebenaran mutlak, hanya milik Tuhan semata.

Terlebih sekarang memasuki bulan Rajab. Menurut kalender islam, Rajab memiliki arti “kemuliaan”.

Fakta Virus Corona: Dalam Situasi Darurat, Kebaikan Adalah Mahal. Terlihat Kecil & Rumit, Namun Akan Mengembang Seiring Kepekaan


Dalam kaidah kemuliaan itu sendiri, tempaan merupakan sesuatu yang lumrah tercipta sebagai penyeimbang kehidupan.

Baik-buruk, dan sebab-akibat, segala hiruk-pikuknya diperjalankan secara selaras. Sehingga, untuk merujuk frasa “Mulia”, tak lantas ditempuh dengan duduk manis, tanpa melakukan upaya apapun.

Manusia dermawan, disucikan, dikaruniai derajat kenabian seperti Nabi Ayyub-pun, pernah diuji oleh Allah SWT dengan penyakit fisik yang serupa. Dimana beliau mengalami fase kepayahan, merintih, menderita dan kesepian.

Taksiran kerugian, bukan terletak pada harta benda dan material, tapi seberapa kuat hantamannya terhadap emosional dan fikiran.

Pemberkatan selanjutnya, tak berhenti pada proses itu saja. Setelah terpaan lahiriah, niscaya ada pasangannya. Yakni terpaan batiniyah. Atau, puasa batin secara ruhaniyah.

Puasa batiniah, sebagaimana yang diketahui bersama, jatuh pada Ramadhan, yang disambut bulan depan. Dimana kita akan diuji secara mental. Wujudnya-pun, hanya kita sendiri yang mampu menafsirkan.

Kembali ke penyebaran penyakit Corona.

Jika Coronavirus adalah sebuah wacana dari Sang-Maha Pencipta. Bertujuan untuk menguji daya tahan lahiriah makhluknya, maka dengan senang hati, Saya pribadi akan menyambutnya. Bukan sebagai serangan, melainkan pencapaian lanjutan dalam etika berspiritual.

Harga Bumbu, menuai keprihatinan ibu-ibu


Efek corona yang mungkin terjadi dan bersifat sebentar, mungkin terletak pada ekonomi dan sumber daya yang ada. Karena sekilas, harga barang-barang, mendadak tinggi di Indonesia. Perlahan namun pasti, menjadi fenomena sesaat yang harus siap untuk dihadapi.

Ini terkait imbas corona terhadap harga barang pokok yang merangkak naik. Sehingga mutlaknya agar dapur tetap mengebul, adalah bagaimana menyikapi paceklik pangan dalam menghemat kebutuhan dapur .

Kebutuhan dapur ini juga komplek. Dan, satu-satunya penyebab yang menjadikan Saya lekas prihatin apabila kasus corona ini tak berakhir adalah Ibu saya sendiri.

Kontribusi terbesar beliau selama 3/4 abad ini adalah, senantiasa memantau kesehatan kami secara berkala. Mengingat komoditi pangan selain beras dan lauk, rempah-rempah/ empon-empon tetap menjadi prioritas utama bagi keluarga besar seperti kami. Setidaknya, harus.

Kenapa?

Karena, dengan adanya pemberitaan corona, harga empon-empon, membuat beliau terperanjat dan kecewa. Begitu tahu informasinya dari penjual sayur mayur keliling, tadi pagi.

Dan memang benar. Untuk harga Temulawak, kencur, jahe, sirih, sudah ada yang menyentuh Rp.20.000,-


Tak terbilang kebaikan beliau untuk hidup Saya. Menginjak lansia-pun, beliau masih segan membuatkan kami jamu herbal, sebagai lawan tanding untuk penyakit apapun.

Saya selalu berdoa, agar beliau selalu diberi kharomah menyembuhkan, sepanjang usianya berbuat welas kepada siapapun. Hak itu yang mau tidak mau, ingin Saya warisi pada prinsip dan keyakinan yang Saya anut.


︾ BAGI JIKA INI BERMANFAAT ︾

Dan diharapkan Sharenya

apabila dirasa perlu 🙂
Name
Comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!