HomeLiteraturSpiritualRespect Covid-19 & Ikuti Himbauan. “Mikir Boleh, Kepikiran Jangan”

Respect Covid-19 & Ikuti Himbauan. “Mikir Boleh, Kepikiran Jangan”

Secara teoritis, filsafat dengan bunyi: “mikir boleh kepikiran jangan”, bertentangan bagi yang memiliki tingkat intelektual luar biasa di bidang sains.

Hingga saat ini, belum ada riset spesial antara pengkaitan pikiran dan perasaan manusia.

Tentu saja, Anda berhak memendam keraguan atas hipotesis tersebut. Dan lagi, siapapun orang, berhak mengklaim kebenaran. Selagi belum ada referensi, selagi pernah membuktikannya sendiri, dan selagi belum terdapat penelitian yang mendukungnya.

Akan tetapi, setelah membaca ilustrasi yang Saya kemukakan berikut ini, Andapun boleh menyangkal. Atau boleh membuang jauh-jauh rasa pesimis Anda terkait corona / Covid-19.


Mikir Boleh Kepikiran Jangan #Ilustrasi

Pada suatu hari, Anda hendak berkunjung ke kediaman seorang teman, yang lama tak berjumpa. 

Dengan penuh rasa percaya diri dan optimis, Anda sudah mempersiapkan jauh-jauh peralatan keamanan selama di perjalanan nantinya. Dongkrak, ban serep, toolset, sudah Anda persiapkan. Jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Untuk meyakinkan diri agar selamat di perjalanan sampai tujuan, Anda juga telah memastikan mobil yang dikendarai, dalam performa terbaik. Telah melalui masa servis di bengkel, dengan cukup lama.

Tiba-tiba, di tengah perjalanan, sekelompok orang menghentikan mobil dan meminta Anda untuk untuk turun dari mobil. Anda pun menuruti permintaan mereka.

Setelah Anda turun dari mobil, salah satu dari orang-orang itu mengatakan bahwa sebentar lagi, Anda akan melintasi sebuah jembatan. Dan PASTI akan mengalami peristiwa naas jika sampai melewatinya.

Dengan nada sangat serius, orang itu meminta Anda untuk mencari jalan lain.

Dia mengatakan bahwa, jembatan itu rentan ambrol jika sampai dilewati beban berat. Katanya, jembatan itu hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki saja.

Dengan berjalan kaki pun, jembatan itu masih terasa bergetar. Sehingga. andaikata mobil apapun yang melintas, jembatan tersebut, akan runtuh.

Maka Anda pun berniat berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu untuk mencari jalur lain.

Pada saat Anda hendak menyalakan mesin, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, terlihat sebuah truk besar yang akan melintasi jembatan.

Karena mencemaskan nasib orang-orang di dalam truk itu, Anda bergegas keluar dari mobil. Dan bermaksud memperingatkan sopir truk itu.

Namun, belum juga Anda berteriak, truk itu sudah berada di atas jembatan.

Karena ketakutan, Anda memejamkan mata dan membayangkan akan mendengar suara keras runtuhnya jembatan itu. Bersama dengan truk tersebut.

Namun, setelah beberapa saat suara yang Anda bayangkan itu tidak juga terdengar. Sebaliknya, perlahan-lahan suara mesin truk itu melintasi Anda.

Melihat kenyataan bahwa jembatan itu masih baik-baik saja setelah dilewati truk, ketakutan Anda untuk melintasi jembatan itu sirna.

Anda pun menjadi tersadar bahwa orang-orang tadi, hanya bermaksud menakut-nakuti Anda.

Maka, tanpa ada rasa takut sedikit pun, Anda mulai menjalankan kendaraan Anda dan melintasi jembatan itu. Satu jam kemudian, Anda telah berada di rumah teman Anda dengan selamat.


Kesimpulan

Kenapa Anda menjadi takut untuk melintasi jembatan itu setelah ada orang yang memberi tahu bahwa jembatan itu rapuh?.

Padahal, ketika truk melintasinya pun jembatan itu masih berdiri tegak. Seperti pada ilustrasi diatas.

Perasaan takut itu muncul, karena Anda memikirkan hal-hal mengerikan yang kenyataannya tidak Anda alami. Terbukti ketika Anda yakin bahwa hal-hal mengerikan itu tidak akan terjadi Anda berani melintasi jembatan itu.


Dari ilustrasi di atas, jika di izinkan. Saya ibaratkan: Toolset, ban serep, dan semua persiapan yang telah Anda bekali sebelum berangkat…adalah bentuk jamak dari himbauan pemerintah.

Selagi tidak keluar dari koridor itu, niscaya Anda Aman.


Tak boleh terlalu dicemaskan, namun tak boleh disepelekan

Tetapi, akan lain ceritanya jika Anda mengabaikan instruksi keselamatan diri Anda sendiri, dengan berupaya berlagak berani. Tanpa dibekali peralatan pelindung diri apapun, itu sama saja konyol.

Dalam konteksnya disini, Saya tidak berbicara kematian lho ya. Kematian itu rahasia, dan setiap orang pasti akan mengalami. Sengaja Saya tidak memasukkan kematian tersebut, karena bukan pada tempatnya membahas kematian sebagai obrolan sesama.

Selain tak pantas, Konsep kematian, hanya YMK-lah yang tahu. Memangnya kita mau dikira menebak-nebak jalan berpikir tuhan?

Nah, dari sini, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa: pikiran sangat mempengaruhi perasaan. “Mikir boleh kepikiran jangan”.

Penutup

Pikiran positif akan membangkitkan perasaan-perasaan yang positif juga, seperti bahagia, berani, percaya diri, dll.

Sebaliknya. Berasumsi negatif secara berlebihan, juga menciptakan perasaan-perasaan yang sesat pula. Seperti memble, cemas, stuck, stress, bahkan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.

Sehingga, apabila Anda berkeinginan menjadi orang yang memiliki perasaan positif yang mendalam, berpikirlah bugar selalu, sepanjang waktu. Selagi Tuhan mengizinkan.

Namun, jika saat ini Anda masih segan berfikir negatif, maka olahlah prasangka itu menjadi sugesti positif dengan cara apapun. Sesuai kenyamanan Anda berlogika. Berimajinasi, bermimpi…itu terserah.

Man Arofa Nafsahu – Faqod Arofa Jahilan Nafsahu” : Siro weruh marang awake dhewe, bakalan weruh dheweke rumongso bodo. Manusia yang tahu kekurangan dirinya sendiri, akan tahu bahwa dirinya lemah. Dan tidak memiliki daya apapun untuk dibanggakan di hadapan Tuhannya.


︾ BAGI JIKA INI BERMANFAAT ︾

Dan diharapkan Sharenya

apabila dirasa perlu 🙂
Name
Comment

error: Content is protected !!