HomeLiteraturSpiritualIlmu Lebah : Kuat Bukan Karena Sengat, Tetapi Persatuan Erat

Ilmu Lebah : Kuat Bukan Karena Sengat, Tetapi Persatuan Erat

Ilmu Lebah : Kuat Bukan Karena Sengat, Tetapi Persatuan Erat. ›. Sejak intruksi Stay From Home digencarkan pemerintah demi mengurangi dampak virus corona, banyak pekerjaan rumah yang melibatkan Saya dengan penghuninya. Semakin banyak pula waktu tersisa sepulang ngantor, yang membuat Saya dibuat dekat karenanya.

Tanpa kompensasi, ketatnya pekerjaan rumah itu-pun makin kompleks jumlahnya. Mulai dari mengantar sekolah, melipat baju, mencuci, menguras bak mandi, sampai nongkrong di warung kopi Samsuri.

Bahkan sepanjang 1 bulan, maupun ke depan, penambahan tugas dari Istri untuk menyirami pekarangan rumah, harus Saya tangani juga.

Selama ini, pekerjaan sunyi yang kerap dikerjakannya seorang diri selain mengurus rumah di sore hari adalah merawat bunga.

Ini dilakukan tidak bertujuan agar terdikte sebagai penganut sekte sesat suami-suami takut istri, melainkan karena dirinya tengah hamil tua. Otomatis, sebagian besar pekerjaan rumah yang dicovernya selama dua bulan terakhir, telah syah menjadi tanggung jawab Saya, selaku suami.

Nah, disinilah banyak sekali petunjuk yang hadir di kehidupan Saya.


Sengatan Lebah

Di depan rumah, terdapat 2 pot besar bertanamkan bunga melati. Bunga yang selalu mendapatkan perhatian dari Istri. dari pagi, hingga menjelang sore hari.

Entah kenapa, bunga yang rutin disiram ini malah dihuni koloni lebah beserta sarangnya. Maka, dalam keadaan tak sengaja ketika air mengguyurnya, lebah-lebah itu kalap dan terbang kesana kesini.

Saking paniknya dengan serangan itu, Saya berusaha menutupi wajah dengan melipat kaos kearah muka.

Sialnya, seekor lebah yang terlanjur cerdik, lepas amarahnya dengan memilih sasaran lain yang bebas dari pandangan calon korbannya. Yup, Ia akhirnya berhasil menyengat Paha Saya.

Memang, sakit yang ditimbulkan dari sengatannya tak seberapa. Namun karena efek kepanikan, sakitnya nyaris nyata menjadi perih dan trauma. Karena bagaimanapun, sengatan lebah merupakan peristiwa horor yang lebih mencekam ketimbang kuburan bagi Saya.

Saking horornya sengatan itu, kemampuannya membangkitkan kenangan masa kecil menjadi syndrom paling rentan, sulit Saya hilangkan. Hingga sampai detik ini.

Tahun 1990-an, fenomena bencana dan musibah, belum detail seperti sekarang. Kenistaan dan penganiayaan, masih memiliki batas toleransi akan norma dan etika.

Maling-pun masih mau untuk bersadar diri”.

Apabila pemilik rumah belum mematikan lampu tanda terjaga. maka si maling akan pantang nyelonong, untuk menyikat habis harta benda pemiliknya.

Beritanya dapat menyebar ke seantero negeri, jika terdapat 1 orang saja yang tersengat. Hari ini tersengat, sudah dipastikan besoknya bengkak-bengkak dan menjadi bahan tertawaan teman satu sekolah.

Karenanya, sengatan lebah sudah seperti penyakit biadab kala itu.

Membayangkan kerumunan lebah, sarang dan sengatnya saja, sudah membangkitkan banyak trauma. Ini malah lebih parah. Komplit sudah sarang lebah dan bunga dalam 1 pot.

Saya juga sempat berasumsi jika sarang lebah bahaya, sehingga ia pantas disingkirkan.

Ilmu Lebah: “Tahan Sakit” dan “Kompak Selalu”

Semenjak tragedi masa silam, ditambah tersengat lebah kedua kalinya , pot dan bunga itu, mulai Saya tatap sebagai musuh.

Bunga itu masih saja ada disitu walau sudah tidak pernah saya sirami lagi. Saya juga berharap agar bunga itu layu, sehingga mudah bagi lebah-lebah itu untuk pergi.

Tapi ternyata, butuh keberanian kuat untuk membuang pot itu.

Jangankan hendak dibuang, mendekatinya saja, Saya masih ketakutan. Tiap kali melewatinya-pun, ada rasa penasaran dan ada rasa bersedih juga. Terkait keberadaan bunga itu, yang sudah sejak lama seperti keluarga sendiri bagi kami.

Anehnya lagi, bunga itu tak lantas mati meskipun tak pernah disirami. Sementara Lebah-lebah itu-pun, juga masih merubungi sarangnya dan makin menjadi-jadi. .

lebah-lebah itu, tetap istiqomah dan menjaga sarangnya.

Mereka juga tidak memiliki iktikad untuk menyerang, meskipun Saya mengawasinya dari jarak dekat. Mereka hanya mempertahankan diri dari perusuh yang hendak menghancurkan rumahnya.

Dari situlah, Saya secara pelan-pelan mulai berfikir mengenai Ilmu lebah yang disajikan melalui fenomena itu.

Jika Tuhan saja adil membagi tempat untuk semua penghuni alam jagat dan isinya. Apakah Saya harus bersikap serakah, dengan serta merta mengusir lebah-lebah tersebut.

Saya merasa, bukan mereka-lah biang masalahnya. Melainkan Saya sendiri yang kurang istiqomah dalam memainkan peran sebagai manusia.

Saya lupa, lebah adalah binatang yang bertanggung jawab terhadap tugas. Saya memutuskan untuk hidup berdampingan dengannya sebagai pihak yang sama-sama menjalani tugas.

Sejak kejadian itu, baik lebah dan bunga itu, Saya rawat untuk disirami. Sekaligus mengukuhkan keberadaannya sebagai anggota baru keluarga kami yang syah. Sebagaimana kehadiran Malikun dan Siti.

Baca Juga : Anggota Baru keluarga Kami – “Malikun & Siti”
error: Content is protected !!